Saat Listrik Padam, Mobil Ini Bisa Menjadi Genset Darurat

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Direktur PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) Naoya Nakamura berpose di samping mobil Mitsubishi Outlander PHEV di Jakarta, Selasa 9 Juli 2019. Outlander PHEV merupakan SUV listrik yang ramah lingkungan. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

    Presiden Direktur PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) Naoya Nakamura berpose di samping mobil Mitsubishi Outlander PHEV di Jakarta, Selasa 9 Juli 2019. Outlander PHEV merupakan SUV listrik yang ramah lingkungan. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, JakartaListrik padam berjam-jam seperti yang terjadi pada Minggu, 4 Agustus 2019, bisa terjadi kapan saja. Bisa karena kerusakan jaringan, atau yang disebabkan bencana alam.

    Di situasi seperti ini mobil listrik punya peran yang mungkin kebanyakan orang belum menyadarinya, yakni bisa menggantikan genset atau menjadi power bank untuk memenuhi kebutuhan listrik di rumah.

    Mitsubishi Outlander PHEV misalnya, bisa menjadi power bank atau pengganti genset di rumah.

    Head of PC Technical Service and CS Support Section Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), Irwansyah Siregar, seperti dikutip dari Antara menuturkan Outlander PHEV bisa dijadikan sumber listrik melalui baterai saat kapasitasnya terisi penuh. "Saat kondisi baterai penuh bisa menjadi seperti power bank untuk penggunaan 1.500 watt," kata Irwansyah, Kamis 25 Juli 2019.

    Ia menjelaskan Outlander PHEV memiliki kapasitas baterai 13.800 watt atau 13,8Kwh, sehingga dalam kondisi penuh bisa menyuplai listrik rumahan.

    Cara kerjanya, lanjut Irwansyah, pemilik cukup mencari colokan listrik di bagian belakang mobil, kemudian menghidupkan kunci kontak, maka listrik akan mengalir ke perangkat yang dihubungkan. "Jika baterai ready, tinggal colok saja," kata dia. 

    Meski bisa menggantikan genset, Outlander PHEV membatasi pengambilan daya listrik, yakni 1.500 Watt.

    Pengunjung memotret mobil konsep FCV-Plus di booth Toyota pada pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2016 di Indonesia Convention Exibition (ICE) BSD Tangerang, 11 Agustus 2016. Tempo/ Aditia Noviansyah

    Daya itu dinilai cukup untuk sekadar menghidupkan berbagai perangkat seperti seperti kulkas, televisi, modem wireless, lampu, hingga isi ulang baterai smartphone maupun laptop dapat dilakukan. Baterai ion-lithium Outlander PHEV bisa digunakan sebagai power bank hingga sembilan jam.

    Suplay listrik untuk rumah dari Outlander PHEV yang diluncurkan di pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show atau GIIAS 2019 ini bisa bertahan lebih panjang, hingga 20 jam jika bahan bakar terisi penuh. Artinya, kombinasi antara baterai ion-lithium dan bahan bakar fosil bisa menyuplai kebutuhan listrik rumah lebih lama.

    Selain Outlander PHEV, Toyota juga memiliki mobil yang dapat menjadi power bank dalam keadaan darurat seperti listrik padam atau pada saat kemah di tengah hutan yang tidak dialiri listrik.

    Namanya Toyota FCV Plus Concept. Model ini pernah dipamerkan di pameran otomotif GIIAS 2016. Sama seperti Outlander PHEV, FCV Plus juga dapat menjadi penyedia listrik di saat darurat. "Pada dasarnya mobil ini bisa jadi penyedia tenaga untuk kendaraan listrik lain ataupun lainnya yang membutuhkan listrik," kata Public Relations Head Department TAM Rouli Sijabat dalam konferensi pers di Menteng, Jumat, 5 Agustus 2016.

    Toyota FCV Plus merupakan hasil pengembangan Toyota untuk teknologi otomotif masa depan. Mobil ini memakai bahan bakar hidrogen yang tenaga listriknya bisa disalurkan ke tempat lain. Persis seperti power bank namun dalam bentuk yang lebih besar. Mekanismenya sama seperti pada Outlander PHEV, tinggal colok, listrik padam di rumah kembali menyala.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.