Tim Antasena ITS Harap Pemerintah Serius Kembangkan Mobil Listrik

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mobi Antasena FCH 1.0 karya mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini menggunakan bahan bakar fuel cell atau hidrogen. (ITS)

    Mobi Antasena FCH 1.0 karya mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini menggunakan bahan bakar fuel cell atau hidrogen. (ITS)

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim Antasena Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) menyambut positif Peraturan Presiden tentang mobil listrik. Mereka berharap adanya komitmen yang serius dari Pemerintah Indonesia untuk pengembangan kendaraan ramah lingkungan tersebut.

    "Adanya keputusan (Perpres) itu, tentu membuka kita untuk mempermudah riset," kata General Manager Antasena, Ghalib Abyan kepada Tempo, Sabtu, 10, Agustus 2019.

    Ghalib menjelaskan lebih lanjut bahwa saat ini mobil listrik menghadapi tantangan dalam hal pengelolaan limbah baterai yang menggunakan bahan litium. Kata dia, sampai saat ini belum ada teknologi yang ditemukan untuk mendaur ulang baterai litium yang terdapat pada mobil listrik jenis Hybrid, Plug-in Hybrid, dan Full Electric.

    Oleh karena itu dia menyarankan agar Pemerintah Indonesia menyediakan fasilitas yang memadai untuk proses riset dan pengembangan mobil listrik. Khususnya, kata dia, pengembangan mobil hidrogen atau (Fuel Cell Electric Vehicle), yang selama ini telah digarap Tim Antasena.

    "Jadi Indonesia bisa lebih mudah untuk transisi ke mobil hidrogen," ujar dia

    Sebelumnya, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, menandatangani Peraturan Presiden tentang mobil listrik. Dengan begiyu, beleid yang mengatur kebijakan-kebijakan mobil listrik mulai berlaku.

    Jokowi juga mengatakan bahwa dengan adanya Perpres ini diharapkan industri otomotif dapat terdorong untuk segera merancang dan mempersiapkan membangun industri mobil listrik di tanah air. Apalagi, kata dia, yang paling utama dari mobil listrik adalah baterai. Sebanyak 60 persen dari mobil listrik, terkait dengan baterai dan Indonesia memiliki berbagai bahan untuk membuat baterai itu di dalam negeri.

    "Strategi bisnis negara ini bisa kita rancang agar kita bisa mendahului membangun mobil listrik yang murah, kompetitif. Karena bahan-bahan ada di sini," ujar Jokowi.

    Terkait itu, Ghalib mengaku belum mendengar kabar adanya pembicaraan mendalam terkait pengembangan atau riset tentang mobil listrik. Namun dirinya berharap agar anak-anak muda atau para inovator Indonesia di bidang otomotif bisa dilibatkan dalam berbagai proyek pemerintah.

    "Tapi untuk kedepannya kami harap pemerintah lebih serius menggarap proyek mobil listrik. Karena menurut saya, SDM kita sebenarnya sudah cukup. Sudah pintar untuk membangun sebuah mobil, dan lain sebagainya. Hanya saja respons dari pemerintah untuk membiayai riset ini yang cukup mahal ini belum ada," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.