Insentif Kendaraan Listrik Diharapkan Bisa Merangsang Pasar

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pengisian daya mobil listrik. shutterstock.com

    Ilustrasi pengisian daya mobil listrik. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Executive General Manager PT Toyota Astra Motor, Fransiscus Soerjopranoto berharap regulasi terkait kendaraan bermotor listrik memiliki insentif agar bisa memberikan dampak positif bagi investasi. Sehingga Road Map 2025 Kementrian Perindustrian RI yang menargetkan 20 persen kendaraan listrik bisa terwujud.

    "Benar bahwa KBL akan memberikan benefit seperti running cost yang murah dan perawatan yang lebih mudah. Tapi jangan lupa masih ada beberapa kekhawatiran, seperti harga yang relatif tidak murah, kesiapan infrastruktur, termasuk kemudahan penggunaan seperti charging yang cepat, dll,"ujar pria yang akrab disapa Soeryo ini dalam keterangan pers ysng diterima Tempo, Kamis, 29 Agustus 2019.

    Apalagi kata Soeryo, Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak kota besar dengan tingkat kemacetan yang tinggi. Selain tu, ada juga budaya mudik bukan hanya ada macet, tapi jarak tempuh yang cukup jauh.

    "Hal-hal itu membuat konsumen masih akan concern terhadap KBL. Maka selain menyiapkan produk, ada baiknya kita siapkan marketnya juga, agar nanti ujungnya sama-sama siap dan bisa optimal," ujarnya.

    Lebih lanjut, Soeryo juga menyatakan bahwa salah satu tugas APM adalah untuk bisa membuat marketability level yang baik antara pilihan produk dan kebutuhan. Sebab mata rantai industri ini, APM berada di tengah antara produsen dan juga market.

    Untuk itu, salah satu tantangan APM menurut dia adalah bagaimana memilih produk dan teknologi KBL yang tepat guna menyesuaikan kebutuhan pasar dan segala hal menyangkut kondisinya.

    "Kita sama sama punya waktu setahun untuk menyiapkan market dengan mengurangi kekhawatiran konsumen," ucapnya.

    Adapun persiapan pasar yang dimaksud Soeryo di antaranya ketersediaan infrastruktur pendukung, kampanye kendaraan listrik, dan jaringan layanan. Itu semua kata dia bisa membuat konsumen tidak terlalu khawatir beralih ke kendaraaan listrik.

    "Satu lagi adalah program benefit yang juga bisa menjadi pemancing sehingga akan jelas terasa perbedaan bagi pengguna KBL dan kendaraan biasa, yakni adanya berbagai insentif di area hilir hingga hulu,"ujarnya.

    Adanya insentif saja menurut Soeryo belum menjamin target Road Map 20 persen atau sekitar 338 ribu dari total 1.69 juta pasar otomotif bisa terwujud. Sebab, berdasarkan data pemberian insentif kendaraan bermotor listrik di beberapa negara seperti Norwegia, Belanda, Cina dan juga Amerika Serikat, ternyata tingkat komposisi perkembangan jumlah KBL masih bisa dibilang tidak terlalu tinggi. Dia mencontohkan Cina, Belanda dan Amerika Serikat yang kabarnya masih berkutat pada angka 3 persen komposisi KBL meskipun telah disuntik dengan berbagai macam insentif.

    Adapun negara yang berhasil mewujudkan transformasi mobil berbahan bakar konvensional menjadi berbahan bakar listrik adalah Norwegia. Kabarnya hampir 40 persen komposisi kendaraan di negara ini sudah berbahan bakar listrik lewat serangkaian program insentif yang ada. Oleh karena itu diharapkan kedepannya pemerintah dan para stakeholder terkait terus berupaya mencari formula terbaik untuk memasuki era kendaraan listrik ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?