Begini Cara Membedakan Onderdil Sepeda Motor Asli atau Palsu

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pedagang melayani pembeli di sentra penjualan onderdil dan asesoris motor di jalan Otista, Jakarta, 7 Januari 2015. Para pedagang mengeluhkan rencana pemerintah DKI melarang sepeda motor melintas di jalan tersebut. TEMPO/Iqbal Ichsan

    Seorang pedagang melayani pembeli di sentra penjualan onderdil dan asesoris motor di jalan Otista, Jakarta, 7 Januari 2015. Para pedagang mengeluhkan rencana pemerintah DKI melarang sepeda motor melintas di jalan tersebut. TEMPO/Iqbal Ichsan

    TEMPO.CO, Jakarta - Saat ini, suku cadang atau onderdil sepeda motor tiruan atau palsu bertebaran di mana-mana. Sehingga sulit untuk mendapatkan barang asli, salah-salah justru tertipu.

    Distributor suku cadang Bensonz Motorcylce membagi cara mengenali produk-produk onderdil asli sepeda motor agar tidak mudah tertipu yang dijual para pedagang dalam pameran otomotif

    "Dari bahan, kalau produk pabrikan asli itu kan lebih kuat. Dari fisik juga, art chrome lebih bagus daripada produk yang palsu," uhar Bensonz pemilik Bensonz Motorcycle di Senayan Jakarta, Minggu 1 September 2019.

    Dari tampilan, lanjut Bensonz, barang onderdil yang palsu memiliki tampilan yang terlihat tidak sempurna selain kekuatan yang tidak tahan lama dibandingkan produk orisinal.

    Selama pameran Otobursa Tumplek Blek 2019, Bensonz Motorcycle mendapatkan pesanan onderdil sepeda motor lama merek Honda dan Yamaha.

    "Kebanyakan sih, mereka cari onderdil C seris dan sport kayak Honda C70 atau C700. Kalau sepeda motor Yamaha kebayakan onderdil untuk V75 dan V80," katanya.

    Pedagang onderdil asal Bandung itu menjual segala jenis suku cadang kendaraan, baik produk asli maupun suku cadang dengan kualitas rendah.

    "Ada produk yang orisinal, ada produk asal Taiwan, dan stok lama juga ada. Namun, kami jujur dari awal. Kami bilang bahwa barang asli atau kualitas rendah," tuturnya.

     ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.