Mobil Listrik Glory E3 di Cina Rp 392 Juta, Berapa di Indonesia?

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mobil DFSK Glory E3 Listrik ikut dipamerkan diGAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019 di ICE BSD, Tangerang, Jumat, 19 Juli 2019. Model ini mengusung konsep rendah emisi gas buang karena menggunakan tenaga listrik sebagai penggeraknya. Tempo/Tony Hartawan

    Mobil DFSK Glory E3 Listrik ikut dipamerkan diGAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019 di ICE BSD, Tangerang, Jumat, 19 Juli 2019. Model ini mengusung konsep rendah emisi gas buang karena menggunakan tenaga listrik sebagai penggeraknya. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Tidak mau tertinggal dengan produsen lain, PT Sokon Automobile, agen pemegang merek Dongfeng Sokon (DFSK) di Indonesia menghadirkan mobil listriknya yakni DFSK Glory E3. Namun sayangnya belum bisa dipastikan kapan mobil tersebut akan dijual.

    Lantas jika dijual di Indonesia, berapa harga mobil listrik asal Cina tersebut?

    Disampaikan Deputy Product Division Head PT Sokonindo Automobile, Ricky Humisar, tidak mudah untuk sekedar memperkirakan harga DFSK E3. Karena ada beberapa hal yang harus dilihat sebelum membanderolnya.

    "Simpel jawabannya. Kami mau jual ini mobil, pertamanya harga produksi sekian. Kedua, biaya tax-nya berapa, insentif ada enggak," ujarnya kepada wartawan di Balai Kartini, Jakarta, beberapa waktu lalu.

    Di negara asalnya sendiri, Cina, Ricky menyebut mobil sudah meluncur pada ajang Shanghai Motor Show, dengan banderol sekitar 200 ribu yuan. Jika diubah ke rupiah sekitar Rp 392,8 jutaan.

    "Itulah Harga di sana dengan regulasi di sana. Saat di sini bisa berbeda. Tapi itulah gambarannya," sebutnya.

    Ricky melanjutkan bahwa tidak menutup kemungkinan harga mobil listrik Glory E3 akan lebih mahal saat masuk ke Indonesia.

    "Bisa jadi," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.