BJ Habibie Meninggal, Gagasan Sedan Maleo Belum Sempat Terwujud

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mobil Maleo Indonesia. Istimewa

    Mobil Maleo Indonesia. Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Baharuddin Jusuf Habibie bukan hanya dikenal sebagai mantan Presiden RI atau pembuat kapal terbang. Lelaki kelahiran Pare-Pare, 5 Juni 1936 ini juga pernah menggagas mobil nasional yang diberi nama Maleo, saat menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi di era Soeharto. Sayang, hingga BJ Habibie meninggal dunia pada Rabu, 11 September 2019, gagasan mobil Maleo belum sempat terwujud. 

    Mobil Maleo sendiri rencananya akan dikembangkan bersama dengan pabrikan mobil asal Inggris, Rover. Nama Maleo sendiri dipilih dengan merujuk pada nama satwa endemik (burung) di Sulawesi.
    Pengembangan mobil yang digadang-gadang sebagai mobil nasional ini dimulai tahun 1993.

    Seperti dikutip dari GNFI, rencananya, Rover bakal mengirim mobil langsung dari pabriknya di Inggris dengan platform mobil sedan Rover. Di Indonesia, mobil iniakan dirancang bangun dengan komponen-komponen dalam negeri yang dikembangkan oleh Pindad, IPTN, INTI, LEN, dan Krakatau Steel.
    Rencananya, mobil Maleo akan resmi mengaspal pada tahu 1994 dan diproduksi massal di Indonesia pada 1997.

    Sedan Maleo saat itu rencananya akan menggunakan mesin 1.200 cc, 3 silinder dan direncanakan memakai 60 persen komponen lokal. Kala itu, Maleo akan dibanderol seharga Rp 25 juta (harga waktu itu).

    Sayangnya rencana besar ini urung terwujud hingga orde baru lengser pada 1998. Merek ini perlahan tenggelam, terutama saat PT Timor Putra Nasional atau PT. TPN milik Tommy Soeharto meluncurkan Sedan Timor yang merupakan rebadge dari KIA Sephia.

    BJ Habibie dinyatakan telah tutup usia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa, 10 September 2019 pada pukul 18.05 WIB. Presiden ketiga ini meninggal dunia pada usia 83 tahun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.