Era Mobil Listrik, Penggunaan Pelumas Bisa Turun 50 Persen

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas melakukan kontrol kualitas (quality control) produk pelumas di Production Unit Jakarta Pertamina Lubricants di Jakarta, 28 Oktober 2016. PT Pertamina Lubricants memiliki total kapasitas lebih dari 535 juta liter per tahun untuk pasar domestik dan internasional. ANTARA/Andika Wahyu

    Petugas melakukan kontrol kualitas (quality control) produk pelumas di Production Unit Jakarta Pertamina Lubricants di Jakarta, 28 Oktober 2016. PT Pertamina Lubricants memiliki total kapasitas lebih dari 535 juta liter per tahun untuk pasar domestik dan internasional. ANTARA/Andika Wahyu

    TEMPO.CO, Jakarta - Volume produksi industri pelumas dan industri komponen otomotif diperkirakan bakal menyusut seiring hadirnya mobil listrik. Kedua sektor industri tersebut dituntut untuk melakukan transformasi.

    Masyarakat Pelumas Indonesia (Maspi) menyatakan volume penggunaan pelumas pada EV akan berkurang 50 persen. Kapasitas produksi pabrikan pelumas pun akan turun. Pasalnya, karakteristik pelumas akan digabungkan dengan cairan pendingin (coolant) yang pemakaiannya lebih sedikit.

    “Kalau bicara internal combustion engine, bisa 4 liter. Kalau (pada EV) saya hitung bisa sampai sekitar 2 liter. Jadi, akan ada perubahan tren,” ujarnya Ketua Maspi Barman Tambunan kepada Bisnis, Selasa 10 September 2019.

    Berdasarkan catatan Maspi, kapasitas terpasang pelumas di dalam negeri mencapai 2,04 juta kiloliter per tahun oleh 44 unit industri. Adapun, kapasitas produksinya hanya 858.360 atau 42 persen dari kapasitas terpasang. Produksi tersebut telah memenuhi 75,29persen dari kebutuhan pelumas di dalam negeri.

    Barman mengatakan pelumas pada era kendaraan listrik dituntut untuk memiliki karakteristik pendingin yang baik. Hal terebut guna menjawab tantangan tingginya suhu mesin penggerak EV (power train). “Pelumas [di mas depan] harus memiliki kualitas khusus itu, tidak bisa dinego lagi.”

    Selain itu, Barman mengatakan pelumas untuk komponen EV harus memiliki kualitas tinggi lantaran pelumas tersebut akan bersentuhan langsung dengan berbagai komponen EV yang jarang ditemukan pada kendaraan konvensional seperti modul elektrik, plastik, kabel tembaga, dan komponen-komponen EV lainnya.

    Pelumas pada era kendaraan listrik dituntut untuk dapat mendinginkan mesin sekaligus menghilangkan kontaminan akibat gesekan antar komponen. “Jadi, challange-nya high compatible lubbricant. Di Indonesia belum ada yang mampu,” katanya.

    Terpisah, Wakil Ketua Asosiasi produsen Pelumas Indonesia (Aspelindo) Patrick Adhiatmadja sependapat volume produksi pelumas akan turun pada era kendaraan listrik. Menurutnya, hal tersebut dikarenakan tidak digunakannya mesin pembakaran pada EV.

    Namun demikian, Patrick optimis pelumas uang kini diproduksi masih akan digunakan untuk komponen lain seperti sistem transmisi dan penghidupan mesin. “Utilitas lebih tinggi, tapi volumenya lebih kecil,” katanya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ratusan Ribu Orang Mengalami Gangguan Pernafasan Akibat Karhutla

    Sepanjang 2019, Karhutla yang terjadi di sejumlah provinsi di Sumatera dan Kalimantan tak kunjung bisa dipadamkan. Ratusan ribu jiwa jadi korban.