TKDN Bus Listrik Mobil Anak Bangsa Diklaim Sudah 40 Persen

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bus Transjakarta bertenaga listrik ditampilkan dalam Pameran Busworld South East Asia ke-8 di Jakarta Internasional Expo, Kemayoran, Rabu, 20 Maret 2019. Bus pertama berwarna hijau muda dengan merk BYD, dan yang kedua berwarna biru yang merupakan buatan perusahaan dalam negeri, Mobil Anak Bangsa (MAB). TEMPO/Tony Hartawan

    Bus Transjakarta bertenaga listrik ditampilkan dalam Pameran Busworld South East Asia ke-8 di Jakarta Internasional Expo, Kemayoran, Rabu, 20 Maret 2019. Bus pertama berwarna hijau muda dengan merk BYD, dan yang kedua berwarna biru yang merupakan buatan perusahaan dalam negeri, Mobil Anak Bangsa (MAB). TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Mobil Anak Bangsa (MAB) mengklaim Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) bus listrik yang sudah diproduksi massal saat ini sudah mencapai 35 persen—40 persen dan siap dipasarkan.

    Presiden Direktur MAB Leonard menuturkan beberapa komponen inti seperti motor dan baterai masih diimpor dari Cina. Namun, komponen lainnya seperti sasis, bodi, dan interior sudah diproduksi di dalam negeri.

    “Ada beberapa komponen yang masih impor karena memang belum bisa diproduksi di dalam negeri. Saat ini, TKDN kendaran yang kami produksi sudah mencapai sekitar 35 persen—40 persen sudah di Indonesia. Ke depan kami akan menambah komposisinya,” katanya kepada Bisnis, Senin, 16 September 2019.

    Perseroan memiliki pabrik seluas 15 hektare yang berlokasi di Demak, Jawa Tengah. Dia mengatakan, kapasitas produksi pabrik tersebut mencapai 100 unit per bulan. Pabrik ini memproduksi bus elektrik MAB model MD12-E.

    Dia menjelaskan, bus elektrik sepanjang 12 meter itu telah mengantongi sertifikat registrasi uji tipe (SRUT) dari Kementerian Perhubungan dan siap dipasarkan. Dia mengatakan, dalam waktu dekat pengiriman bus ini untuk pertama kali akan terealisasi.

    “Pada November ini kami akan mengirimkan satu unit [MD12-E] untuk Paiton, perusahaan pembangkit listrik dari Jepang. Selain itu, kami sudah menyepakati nota kesepahaman dengan Perum PPD untuk pemesanan 500 unit bus,” katanya.

    Selain itu, bus yang dibanderol seharga Rp4 miliar (off the road) ini telah diuji coba oleh PT Angkasa Pura II (Persero) dan PT Garuda Indonesia (Persero) sebagai kendaraan operasional.

    Bus listrik ini menggunakan baterai LiFePo atau lithium ion ferro phospate dengan kapasitas 259,2 Kwh. Adapun, untuk motor MAB menggunakan seri HYYQ 800-1200 tipe permanent magnetic synchronous motor (PMSM) dengan daya maksimum setara 268 tenaga kuda.

    Ke depan, perseroan akan mengembangkan produksi motor listrik. Langkah itu akan diawali dengan mendatangkan prototipe pada bulan depan. Dia meyakini dalam waktu 2 tahun perseroan sudah bisa memproduksi motor listrik secara massal.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.