Test Ride Vespa GTS Super 150, Nyaman Dipakai Harian dan Turing

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Vespa GTS Super 150 yang dijajal Tempo beberapa pekan lalu. TEMPO/Eko Ari Wibowo

    Vespa GTS Super 150 yang dijajal Tempo beberapa pekan lalu. TEMPO/Eko Ari Wibowo

    TEMPO.CO, Jakarta - Vespa kini telah hadir sebagai gaya hidup atau tren bagi para penggunanya atau simbol kemampanan. Soal banderol pun, Vespa memang memposisikan dirinya sebagai sepeda motor menengah ke atas, paling murah Vespa S 125 yang dipasarkan Rp 34 juta dan termahal adalah Vespa 946 yang setara dengan mobil MPV keluaran terbaru. Meski demikian, penjualan Vespa cukup bagus terlihat di jalanan sudah banyak Vespa baru yang lalu lalang.

    Tempo mencoba menjajal salah satu produknya yaitu Vespa GTS Super 150 yang dibanderol Rp 58 juta. Motor ini memiliki bodi lebih bongsor dibandingkan Vespa modern lainnya yang bisa dikatakan bergaya slim, seperti Sprint maupun Primavera. Selain bongsor, motor ini juga lebih berat dibandingkan motor matik sekelasnya karena memiliki bobot hingga 140 kilogram. Sebelum menaikinya, bodi yang besar sempat menyiutkan nyali karena menduga akan menyulitkan saat manuver maupun dikendarai. Apalagi Tempo yang memiliki tinggi badan 160 sentimeter dipastikan jinjit balet.

    Vespa GTS Super 150 yang dijajal Tempo beberapa pekan lalu. TEMPO/Eko Ari Wibowo

    Ketika sudah nangkring di atas jok, rasa minder itu sirna. Motor ini masih oke untuk pengendara dengan tinggi badan pas-pasan. Posisi motor berhenti memang memaksa Tempo harus jinjit balet namun bisa disiasati dengan posisi pantat sedikit maju ke depan agar kaki lebih leluasa menapak di tanah. Perlu diketahui tinggi jok Vespa GTS Super 150 mencapai 790 sentimeter tidak berbeda jauh dengan motor lain yang berada dikisaran 760-780 cm namun bentuk jok yang lebar tentu berpengaruh pada jangkauan kaki.

    Begitu tombol starter dipencet, suara halus dari knalpot imut Vespa GTS Super 150 terdengar. Tak ada lagi terasa getaran yang sering dikeluhkan para pemilik Vespa pada generasi mesin lawas seperti pada Vespa LX model awal. Tempo langsung mencoba tancap gas, terasa akselerasi motor ini sangat smooth. Yang tiap hari menggunakan motor matik 150cc Jepang mungkin menyebut akselerasinya kurang galak, tapi memang itulah karakter dari Vespa. Kelebihan dari karakter ini, sangat nyaman untuk jalan santai atau cruising jalan jauh. Apalagi ditunjang dengan bodi dengan monokok lebih nyaman untuk perjalanan jauh karena lebih antep.

    Kelemahannya, pada penggunaan stop and go memang harus sedikit sabar dan pupuskan berkendara agresif. Namun, kalau hanya untuk menyalip kendaraan lain atau mobil di dalam kota masih enak dan gampang. Hanya saja, untuk kendaraan seperti bis AKAP tunggu dulu, harus cari momen yang pas. Untuk selap-selip, motor ini masih nyaman dipakai hanya saja dengan bodi bongsor dan jarak sumbu roda yang mencapai 1.350 mm tentu caranya berbeda saat mengendalikan motor matik lain seperti Vario atau Beat.

    Vespa GTS Super 150 yang dijajal Tempo beberapa pekan lalu. TEMPO/Eko Ari Wibowo

    Vespa GTS Super 150 mengendong mesin generasi baru i-get 4 langkah, silinder tunggal 4 katup dilengkapi dengan sistem start & stop. Mesin berkapasitas murni 155,1 cc ini sudah mengadopsi pendingin air atau sudah menggunakan radiator sehingga tidak takut overheat, performa pun selalu terjaga. Mesin ini mampu menghasilkan tenaga 10,8 kW pada 8.250 rpm dan torsi 13,5 Nm pada 6.750 rpm. Tak berbeda jauh dengan Yamaha Nmax yang memiliki tenaga 11.1 kW pada 8000 rpm dan torsi maksimum 14.4 Nm pada 6000 rpm. Berapa topspeed Vespa GTS Super 150? Tempo sempat menjajal hingga 100 kilometer per jam namun dengan kondisi jalanan yang ramai dipaksa mengendorkan gas meski selongsong masih belum penuh.

    Dengan performa yang cukup lumayan, Vespa ini ditunjang dengan sistem pengereman yang canggih yaitu penggunaan Antilock Brake System atau ABS dual channel. Dengan dua cakram yaitu cakram depan 220 mm dan ukuran yang sama di bagian belakang. Sehingga ketika tiba-tiba ada orang nyelonong menyeberang, rem sangat bisa diandalkan.

    Soal suspensi, Vespa masih mempertahankan sistem peredam kejut yang khas yaitu monoshock dengan link. Tempo merasakan bantingan suspensi depan cukup keras kemungkinan untuk menunjang kestabilan saat kecepatan menengah hingga tinggi. Untungnya dikombinasikan dengan peredam kejut belakang dengan tipe hidrolik ganda yang empuk membuat motor ini sangat nyaman saat jalanan mulus. Ketika melewati jalanan bumpy atau berlubang membuat tangan sedikit pegal. Suspensi belakang bisa diatur dengan 4 tingkat setelan kekerasan.

    Vespa GTS Super 150

    Peranan suspensi terasa saat dipakai manuver di kemacetan. Tempo merasakan suspensi depan agak kerepotan saat diajak selap-selip dengan gaya agresif berbeda dengan suspensi teleskopik pada motor sport maupun matik lainnya. Ada kemungkinan juga ban yang masih baru dengan ukuran 120/70 - 12” di depan dan 130/70 - 12” di belakang dengan label Maxxis terasa tapak ban belum merekat sempurna di aspal.

    Yang patut diacungi jempol, headlamp motor ini sudah mengadopsi LED yang cukup terang dibandingkan motor matik Jepang. Motor ini juga menyediakan socket pengisian baterai yang tersembunyi di bagasi dek depan. Saat mengisi baterai, ponsel bisa ditaruh di dalam bagasi tanpa takut hilang karena menggunakan penguncian di kontak utama. Bagasi ini juga bisa memuat sarung tangan. Adapun bagasi di bawah jok cukup luas mampu menampung jaket hingga jas hujan namun helm tidak bisa masuk. Fitur keren lainnya adanya remot untuk membuka jok dan mencari saat di parkiran. Motor ini juga sudah disematkan immobilizer sehingga lebih aman dari maling.

    Vespa GTS Super 150 yang dijajal Tempo beberapa pekan lalu. TEMPO/Eko Ari Wibowo

    Selama sepekan Tempo menjajal motor ini bisa dikatakan sedikit boros soal konsumsi bahan bakar dibandingkan kompetitor dari Jepang. Ketika Tempo mengisi 4 liter bensin Pertamax mampu menempuh perjalanan sekitar 130 kilometer atau 1:32,5. Bandingkan dengan merek Jepang yang biasa Tempo kendaraai mampu meraih 1:40-an. Vespa lebih boros karena bodinya lebih berat dibandingkan motor Jepang yang rangkanya hanya berupa pipa besi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.