Showroom Esemka Sudah Diisi Mobil, Tapi Tidak Boleh Dilihat

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja sedang merakit Esemka Bima di pabrik perakitan mobil Esemka di Boyolali, Jawa Tengah, 6 September 2019. TEMPO/Wawan Priyanto

    Pekerja sedang merakit Esemka Bima di pabrik perakitan mobil Esemka di Boyolali, Jawa Tengah, 6 September 2019. TEMPO/Wawan Priyanto

    TEMPO.CO, Boyolali - Ada pemandangan yang berbeda di gedung showroom pabrik PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) saat Tempo bertandang pada Selasa, 8 Oktober 2019. Kini, gedung bercat putih berhiaskan ornamen merah pada atapnya itu tidak lagi kosong. 

    Sayangnya, Tempo dilarang memasuki halaman pabrik PT Esemka untuk melihat lebih jelas, mobil Esemka jenis apa saja yang dipajang di gedung paling depan tersebut. Dari luar pintu gerbang yang posisinya lebih rendah dari gedung showroom berkaca bening itu, hanya terlihat atap sebuah mobil bercat gelap. 
     
    "Mohon maaf, kami tidak bisa mempersilakan masuk kalau Anda belum dapat izin," kata satpam yang menemui Tempo di pintu gerbang. Dari luar pintu gerbang itu hanya terlihat satu-dua mobil Esemka Bima bercat putih yang sedang diujicoba mengelilingi gedung perakitan yang berada di belakang showroom. 
     
    Satpam juga tidak bersedia menjawab saat Tempo menanyakan apakah sudah ada tamu yang datang untuk membeli mobil Esemka di pabrik yang sudah diresmikan Presiden Joko Widodo sejak sebulan lalu itu. "Seperti biasa, kami tidak bisa memberikan informasi apapun," ujarnya. 
     
    Meski sudah diresmikan bersamaan dengan peluncuran mobil Esemka Bima, pabrik yang berada di Desa Demangan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, itu hingga kini juga belum membuka lowongan pekerjaan. 
     
    "Anak saya sudah mengirimkan surat lamaran tiga kali. Tapi sampai hari ini juga belum dapat panggilan," kata salah satu warga Desa Senting, Banyudono, Boyolali, Selasa, 8 Oktober 2019.
     
    Senting adalah desa tetangga Demangan. Pabrik PT Esemka menjadi pembatas kedua desa tersebut. Warga yang tidak bersedia menyebutkan namanya itu membuka warung di samping pabrik PT Esemka. Warung kecil milik perempuan paruh baya itu hanya berjarak beberapa puluh meter dari pagar sisi timur pabrik PT Esemka. 
     
    Perempuan itu mengatakan, anaknya baru lulus dari jurusan otomotif SMK Muhammadiyah Sambi Boyolali pada 2018. "Karyawan di pabrik PT Esemka itu memang banyak dari Boyolali, tapi dari kecamatan yang jauh. Sedangkan yang tinggalnya di dekat pabrik justru belum dipanggil sampai sekarang," katanya. 
     
    Meski belum ada pengumuman resmi dari PT Esemka tentang lowongan pekerjaan, sejumlah warga Desa Demangan dan Senting sudah berupaya mendaftarkan anak mereka sejak tahun lalu. Selain menyerahkan surat lamaran kepada satpam yang berjaga di pintu gerbang pabrik, sebagian warga juga mencoba menitipkan pada tetangganya yang bekerja di kantin PT Esemka. "Tapi sama saja, belum ada panggilan. Katanya semua pejabatnya di Jakarta," kata warga lain yang juga dari Desa Senting. 
     
    Saat ditemui seusai peresmian pabrik PT Esemka pada 6 September lalu, Humas PT Esemka Sabar Boedhi mengatakan sudah ada sekitar 220 karyawan yang bekerja. "Pekerja pabrik sekitar 179 karyawan lulusan SMK. Adapun sisanya karyawan di bagian manajemen. Dari 179 karyawan lulusan SMK itu, sekitar 65 persennya warga Boyolali, 35 orang di antaranya dari Desa Demangan," kata Sabar. 

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Fahri Hamzah Dari PKS Ke Partai Gelora Indonesia

    Partai Gelora Indonesia didirikan di antaranya oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta pada, 28 Oktober 2019. Beberapa tokoh politik lain ikut bergabung.