Menjajal Taksi Listrik BYD Bluebird: Senyap dan Ongkos Tetap Sama

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menjajal Taksi Listrik Bluebird BYD dari Bandara Soekarno-Hatta ke Pamulang. TEMPO/Eko Ari Wibowo

    Menjajal Taksi Listrik Bluebird BYD dari Bandara Soekarno-Hatta ke Pamulang. TEMPO/Eko Ari Wibowo

    TEMPO.CO, Jakarta - Bluebird telah meluncurkan armada yang mengandalkan mobil listrik yaitu dengan tipe BYD dan Tesla. Tipe BYD ini ke depan diposisikan akan menggantikan atau berdampingan dengan Taksi Bluebird reguler. Adapun Tesla nantinya akan berdampingan dengan Taksi Silverbird yang saat ini memiliki armada Toyota Alphard dan sedan BMW.

    Saya bersama sejumlah rekan menjajal naik Taksi Bluebird BYD dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta ke Pamulang, Tangerang Selatan. Ketika masuk kabin taksi listrik BYD ini tak terlalu luas ya standar seperti MPV lain seperti Honda Mobilio. Saat duduk di baris kedua kaki sedikit ditekuk. Jok nyaman menggunakan bahan dari kain sintetis. AC pun dingin menambah kenyamanan berada di kabin. Pada bagian bagasi di belakang cukup luas tak berbeda dengan Bluebird Honda Mobilio.

    Saat mobil mulai melaju, taksi ini sangat senyap. Meski demikian torsi mobil ini terasa lebih nonjok dibandingkan taksi Bluebird jenis bensin. "Mobil ini torsinya besar, kecepatan puncak bisa sampai 160 kilometer per jam," kata Kadoni, supir Bluebird yang kami tumpangi pada awal bulan Desember 2019.

    Menjajal Taksi Listrik Bluebird BYD dari Bandara Soekarno-Hatta ke Pamulang. TEMPO/Eko Ari Wibowo

    Hanya saja, menurut Kadoni, dengan torsi besar dan kecepatan yang cukup kencang banyak yang mengalami kecelakaan. Kini, Bluebird membatasi atau membuat limiter kecepatan maksimal hanya 135 kilometer per jam. Jika melebihi limiter akan ada suara peringatan berupa bunyi tit, tit, tit dan kecepatan mobil tak bertambah. "Kalau melebihi limiter ada konsekuensi argo bisa nol," ucapnya.

    Ketika melaju kencang di jalan tol, taksi BYD ini sangat nyaman. Suspensi tetap stabil meski dipakai melaju diatas 100 kilometer per jam saat menyalip kendaraan lain. Mobil tetap bisa dikendalikan. "Mobil ini enak, enggak pakai kopling. Hanya main gas dan rem," ujar Kadoni yang sudah menjalani profesi sopir taksi selama 22 tahun. Enaknya lagi, mobil ini tak perlu banyak perawatan karena tidak ada oli.

    Sebelum beroperasi, ia wajib mengisi penuh baterai mobil selama sekitar 3-4 jam. Saat kami pesan, ia baru saja mengisi baterai selama 2 jam hingga penuh dengan biaya Rp 120 ribu. Menurut dia, pakai taksi listrik wajib memantau kondisi baterai jika kurang dari 30 persen harus segera mencari tempat pengisian. Tapi enaknya tak seperti mobil konvensional, "Jika macet tidak berdampak pada konsumsi baterai."

    Dalam sehari beroperasi, Kadoni mengaku biasanya bisa mencapai jarak tempuh 400 kilometer. Dalam sehari, ia bisa dua kali melakukan pengisian baterai. Hasil yang didapatkan bisa mencapai Rp 1,7-1,8 juta. "Untuk setoran Rp 1,2 juta," ujarnya.

    Sekitar satu jam perjalanan dari Bandara Soeta hingga Pamulang, konsumsi baterai Taksi BYD ini hanya berkurang sekitar 10 persen. Soal biaya tak berbeda dengan taksi Bluebird konvensional hanya Rp 153 ribu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.