Bos FIA Kurang Setuju Formula 1 Pakai Mesin Full Listrik

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pembalap dari tim Ferrari melajukan mobilnya dalam sesi 1 latihan bebas Formula 1 (F1) GP Australia di sirkuit Melbourne Grand Prix di Melbourne, Australia, 23 Maret 2018. (AP Photo/Rick Rycroft)

    Pembalap dari tim Ferrari melajukan mobilnya dalam sesi 1 latihan bebas Formula 1 (F1) GP Australia di sirkuit Melbourne Grand Prix di Melbourne, Australia, 23 Maret 2018. (AP Photo/Rick Rycroft)

    TEMPO.CO, Jakarta - Bos Federasi Otomotif Internasional (FIA), Jean Todt menentang penggunaan mesin listrik murni untuk balapan Formula 1. Todt percaya penggunaan daya listrik murni tak akan mampu memenuhi tuntutan F1 dalam waktu dekat.

    "Saat ini Anda hanya dapat mempertimbangkan F1 dengan mesin hybrid. Anda tidak dapat membayangkan Formula E mengganti F1," ujar Todt seperti diukutip dari autosport, Jumat, 27 Desember 2019.

    Jarak perlombaan 300 kilometer, kata Todt, tidak akan mampu ditempuh oleh mobil balap listrik apapun dengan kecepatan F1 hari ini. Menurutnya, itu sulit terwujud dalam waktu dekat, kalaupun bisa bukan dalam dekade ini.

    "Hari ini hybrid adalah pilihan tepat. Langkah selanjutnya adalah melihat bagaimana kita bisa memakai bahan bakar yang lebih hijau," ujarnya.

    Dia percaya, bahwa mesin hybrid turbo V6 dapat dibuat lebih ramah lingkungan melalui peningkatan kualitas bahan bakar. Tanpa harus beralih ke penggunaan mesin listrik murni seperti balapan Formula E yang telah berlangsung selama enam musim terakhir.

    Sementara itu, Kepala Mesin Tim F1 Mercedes, Andy Cowell setuju dengan, Todt mengenai balapan F1 yang tidak akan sepenuhnya beralih ke teknologi listrik murni dalam beberapa tahun mendatang.

    “Semuanya tergantung pada teknologi penyimpanan. Jika itu lithium-ion maka kerangka waktu (analisa Todt) itu benar. Jika Anda mencari solusi hidrogen, maka itu bisa dilakukan hari ini. Tapi mobil akan jauh lebih berat dari sekarang. Pada titik itu, saya pikir kita akan kehilangan aspek penting dari F1," ujarnya.

    “Jadi saya pikir itu sebabnya langkah-langkah yang kami ambil untuk balap Formula 1 2021 penting. Dimana kami memperkenalkan bahan bakar bio-berkelanjutan 10 persen. Jika berhasil maka ada banyak karbon dioksida yang dapat kita konversi menjadi bahan bakar berbasis hidrokarbon cair," ucap Cowell.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.