Harley-Davidson Bos Jiwasraya: Model yang Enak Dipakai Ngebut

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Direktur Investasi PT Asuransi Jiwasraya Hary Prasetyo berpose di atas motor Harley Davidson. Foto istimewa

    Mantan Direktur Investasi PT Asuransi Jiwasraya Hary Prasetyo berpose di atas motor Harley Davidson. Foto istimewa

    TEMPO.CO, Yogyakarta - PT Asuransi Jiwasraya (Persero) belakangan menjadi sorotan karena dugaan kasus korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi yang disinyalir menjadi sumber BUMN itu gagal membayar polis nasabahnya senilai belasan triliun rupiah.

    Di tengah kisruh kasus gagal bayar Jiwasraya itu, publik ikut menyorot gaya hidup beberapa bos Jiwasraya yang hobi mengkoleksi motor gede atau moge. Seperti sorotan pada mantan Direktur Keuangan Jiwasraya Hary Prasetyo yang sedang mejeng bersama Harley-Davidson jenis Fat Boy.

    Pengurus Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) DI Yogyakarta Eka Wiyandi menuturkan Harley Davidson Fat Boy yang ditunggangi mantan Direktur Keuangan Jiwasraya Hary Prasetyo bukanlah seri motor langka atau klasik yang jadi buruan kolektor walau harganya cukup ‘berbunyi’.

    “Fat Boy itu termasuk Harley modern, diproduksi sekitar tahun 2000-2006 yang pasarnya kebanyakan anak muda,” ujar Eka kepada Tempo Selasa 31 Desember 2019.

    Eka merinci, Fat Boy merupakan jajaran motor dengan mesin cukup garang 1.700 cc dan berkarakter bandel. Sehingga memang lebih cocok untuk anak muda yang memikirkan faktor kecepatan.

    “Untuk tarikannya di jalanan Fat Boy memang enak banget, cocoknya untuk anak anak muda,” ujarnya.

    Soal pasaran Fat Boy yang barunya disebut tembus di harga miliaran rupiah, Eka menuturkan saat ini kondisi bekasnya saja bisa mencapai hampir setengah miliar rupiah dengan catatan surat-suratnya lengkap.

    “Kalau harga Harley itu tetap melihat kondisi. Kalau memang bagus, masih orisinil, surat lengkap bisa sampai Rp 400 jutaan,” ujarnya.

    Dari sejumlah lansiran produk Harley Davidson dari tahun tahun muda, Fat Boy menurut Eka termasuk jajaran Harley di kasta menengah atau medium. Fat Boy bukanlah seri termurah tapi juga bukan yang termahal.

    Sebab di atas Fat Boy masih banyak berjajar seri Harley khususnya tipe tipe spesial touring. Seperti Harley Davidson Ultra atau Street Glide.Sedang seri-seri di bawah Fat Boy seperti tipe tipe Sportster.

    “Populasi Fat Boy juga banyak di Indonesia, gampang ditemui, walau sekarang sudah berhenti produksinya,”  ujarnya.

    Dari sisi kemewahannya, ujar Eka, hampir seluruh seri Harley memiliki sisi prestisiusnya sendiri. Hanya saja untuk Fat Boy ini lebih mewakili prestisiusnya anak muda. Terlebih jika sudah dipoles dengan sejumlah modifikasi seperti knalpot, velg, dan atribut lainnya agar tampak lebih ganteng.

    “Jadi yang masih suka speed, semua itu sudah diwakili sama Fat Boy, motornya juga nggak terlalu berat bawaannya seperti tipe tipe touring yang ada tudungnya,” ujarnya.

    Saat seri Fat Boy mulai diproduksi dan dipasarkan, ujar Eka, kala itu distribusinya di Indonesia masih ditangani oleh Mabua. Setelah itu pemasaran Harley saat ini dipegang oleh Anak Elang selaku dealer resminya.

    Sedang dari sisi perawatannya, seri Fat Boy juga terbilang lebih mudah karena termasuk Harley modern. Beda dengan seri klasik atau di bawah tahun 1980 an.

    “Hanya saja kalau namanya onderdil Harley ya nggak ada yang murah, baik keluaran baru atau lama,” ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Misteri Paparan Radiasi Cesium 137 di Serpong

    Bapeten melakukan investigasi untuk mengetahui asal muasal Cesium 137 yang ditemukan di Serpong. Ini berbagai fakta soal bahan dengan radioaktif itu.