UGM Garap Sistem Monitoring Pendata Kepadatan Transportasi

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana Jalan Malioboro, Yogyakarta, pada Senin (23/12) terpantau lengang. Pemerintah DIY mewanti-wanti agar liburan panjang seperti Natal dan akhir tahun tak dimanfaatkan oknum juru parkir dan pedagang untuk mematok tarif tinggi kepada wisatawan. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Suasana Jalan Malioboro, Yogyakarta, pada Senin (23/12) terpantau lengang. Pemerintah DIY mewanti-wanti agar liburan panjang seperti Natal dan akhir tahun tak dimanfaatkan oknum juru parkir dan pedagang untuk mematok tarif tinggi kepada wisatawan. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Panut Mulyono mengaku tengah menjajaki kerjasama dengan Pemerintah DIY untuk membantu penataan transportasi perkotaan yang dinilai makin crowded (ramai) di Yogyakarta.

    Sebagai kota wisata, kepadatan lalu lintas di Yogyakarta khususnya saat musim liburan dianggap berbagai pihak semakin meningkat dan mengganggu kenyamanan. Di satu sisi Yogya tak mungkin lagi menambah jalan jalan yang ada.

    Nah, dari situasi itu, ujar Panut, pihaknya tengah menawarkan menjadi kampus yang memonitor dan mengelola data kepadatan di Yogya sebagai bahan acuan ilmiah pengambilan keputusan.

    “Kami telah mengembangkan sistem big data yang bisa dimanfaatkan untuk monitoring dan pengaturan sistem transportasi perkotaan,” ujar Panut di sela pertemuan dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X Selasa 7 Januari 2020.

    Sistem big data atau pusat pengelolaan data ini ujar Panut bisa menjadi acuan untuk melakukan rekayasa lalu lintas yang lebih terarah dan ilmiah. Bukan lagi dengan perkiraan pandangan mata atau kebiasaan.

    Dari sistem big data tersebut, UGM, kata Panut  bisa mengetahui secara rigid kondisi transportasi perkotaan Yogya. Seperti jumlah kendaraan yang melintas di sebuah ruas jalan, jenisnya apa, dan waktu perlintasannya.

    “Sehingga ketika terjadi kepadatan kendaraan di Yogya seperti saat liburan, pengambil kebijakan bisa menggunakan hasil analisa big data itu secara lebih tepat untuk rekayasa lalu lintas, bukan mengira-ngira lagi,” kata dia.

    Rekayasa lalu lintas yang dimaksud misalnya berapa lama Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) di sebuah simpang harus menyala, kapan sebuah ruas perlu di buka tutup, sehingga bisa mengurangi kepadatan secara efektif.

    “Sistem kerjanya seperti pintu air, kalau arusnya besar ya dibuka lebar, kalau tidak ya dikecilkan,” ujarnya.

    Saat ini, sistem big data UGM ini masih dibahas bersama Pemda DIY untuk kemungkinan penerapannya sebagai bahan pengambilan keputusan yang terintegrasi dengan Dinas Perhubungan.

    Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIY, Sigit Sapto Rahardjo sebelumnya mengungkapkan masa liburan Natal dan Tahun Baru 2020 dari data monitoring lalu lintas di sejumlah lokasi pos masuk Yogyakarta diperkirakan jumlah mobil pribadi naik 7,6 persen dari 648.566 unit menjadi 697.857 unit sedangkan sepeda motor naik 13,2 persen dari 1.153.611 menjadi 1.303.580 unit motor selama liburan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mereka Boleh Tetap Bekerja Saat DKI Jakarta Berstatus PSBB

    PSBB di Jakarta dilaksanakan selama empatbelas hari dan dapat diperpanjang. Meski demikian, ada juga beberapa bidang yang mendapat pengecualian.