Soal Insentif Pajak Mobil Listrik, Indonesia Bisa Meniru Cina

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Harus diakui, Pemerintah Cina sangat responsif terhadap masa depan mobil ramah lingkungan. Termasuk di dalamnya adalah mobil energi terbarukan seperti mobil hybrid, plug-in hybrid, hingga mobil listrik murni. Ketika penjualan mobil listrik seret, pemerintah langsung bereaksi dengan mengutak-atik insentif pajak mobil listrik.

    Pada akhir Desember 2019, Cina mengumumkan akan memperpanjang potongan pajak atas pembelian kendaraan energi terbarukan, termasuk di dalamnya kendaraan listrik, hingga akhir 2020. Hal ini memicu gairah pembelian mobil listrik yang sempat meredup dalam beberapa bulan terakhir karena khawatir insentif pajak dihentikan pada akhir Desember 2019. 

    Momentum ini kebetulan menjadi berkah bagi Tesla, produsen mobil listrik Amerika Serikat, yang meluncurkan Tesla Model 3 buatan pabrik Tesla di Shanghai, Cina. Terkait dengan keringan pajak itu, dealer Tesla di Shanghai, Cina, diserbu pembeli. Sebagian besar memesan Tesla Model 3, model dengan harga paling terjangkau, yang diproduksi di pabrik Tesla di Shanghai.

    Menurut laporan Xinhua yang dikutip dari China Daily, Minggu, 19 Januari 2020, pesanan Model 3 melonjak di tengah pasar kendaraan listrik yang melambat sepanjang tahun lalu. Pemerintah disebut memberikan potongan pajak baru untuk kendaraan listrik yang berdampak pada harga mobil Tesla Model 3 kurang dari 300.000 yuan (setara Rp 596,87 juta).

    "Kami memiliki lebih banyak pelanggan hari ini yang ingin test drive dan informasi lebih lanjut," kata seorang tenaga penjual di toko Tesla di Shanghai.

    Pabrik Tesla di Shanghai telah memproduksi hampir 1.000 kendaraan yang tersedia untuk dijual dan mencapai kapasitas produksi lebih dari 3.000 kendaraan per minggu sejak meluncurkan 10 sedan Model 3 pertamanya kepada pelanggan Cina pada 7 Januari, menurut laporan keuangan terbaru Tesla.

    “Harga itu membuat Tesla disebut kompetitif di pasar kendaraan energi baru Cina (NEV),” kata Cui Dongshu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penumpang Mobil Cina.

    Ia menambahkan bahwa produksi Tesla di Cina akan memiliki positif pada industri otomotif negara itu.

    “Penjualan Tesla di Cina akan membantu mendorong produsen mobil dalam negeri untuk mempercepat peningkatan teknologi,” ujar dia. 

    Sebagai tolok ukur untuk NEV, Model 3 akan membantu mendorong inovasi dan peningkatan pemasok domestik, menurut laporan oleh Minsheng Securities.

    Penjualan NEV Cina naik pada akhir 2019 setelah hampir setahun melambat, mencapai pertumbuhan 71,4 persen pada bulan Desember, menurut Asosiasi Produsen Otomotif Cina.

    Kebijakan subsidi pada NEV akan tetap stabil pada tahun 2020, menurut Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi awal bulan ini.

    “Tesla telah memulai dorongan besar bagi para pemain Tiongkok dan mereka akan mendapat manfaat dari meningkatnya antusiasme pelanggan untuk mobil yang pintar dan tanpa pengemudi,” kata Cui.

    Regulasi soal kendaraan listrik di Cina ini menarik, dengan misi utama adalah mempopulerkan kendaraan ramah lingkungan kepada masyarakat. Penjualannya terus meningkat, hingga lebih dari 1 juta unit pada 2019. Angka ini lebih tinggi dari penjualan seluruh model yang dipasarkan di Indonesia sepanjang 2019.

    Rasanya Indonesia dapat mencotoh penerapan regulasi kendaraan listrik di Cina jika ingin menggaet lebih banyak investor untuk berinvestasi di Indonesia. Seperti halnya Tesla, yang seperti mendapatkan karpet merah saat ingin membangun pabrik di Shanghai, dan dilanjutkan dengan pendirian pusat penelitian dan pengembangan di negeri Tirai Bambu itu. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peta Bencana Sejumlah Sudut Banjir Jakarta di Akhir Februari 2020

    Jakarta dilanda hujan sejak dini hari Rabu, 25 Februari 2020. PetaBencana.id melansir sejumlah sudut yang digenangi banjir Jakarta hingga pukul 15.00.