Ekspor Mobil 2020 Dihantui Krisis Global

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • All New Honda Brio ekspor perdana ke Filipina, Rabu, 10 April 2019. Mobil itu dikapalkan dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. (HPM)

    All New Honda Brio ekspor perdana ke Filipina, Rabu, 10 April 2019. Mobil itu dikapalkan dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. (HPM)

    TEMPO.CO, Jakarta - Tahun lalu, ekspor mobil Honda dalam bentuk Completely Build up (CBU) mencapai 6.847 unit. Filipina dan Thailand merupakan dua negara tujuan ekspor terbesar Honda Brio. Business Innovation & Sales Marketing Director PT Honda Prospect Motor (HPM), Yusak Billy, mengatakan bahwa tahun ini ekspor mobil dalam bentuk CBU akan menghadapi tantangan yang lebih berat.

    "Dampak dari krisis global membuat situasi perekonomian di negara tujuan ekspor sulit," kata Billy di Bandung, Kamis, 23 Januari 2020.

    Menurut Billy, ekpsor mobil dalam bentuk utuh selama ini merupakan permintaan dari negara bersangkutan. Karena, lanjut dia, Brio hanya diproduksi di Indonesia. "Jadi secara produksi, kualitas, model, dan harga yang kompetitif, mereka minta dikirim Brio dari Indoensia," ujar dia.

    Meski demikian, Billy optimistis ekspor Honda tahun ini bisa menyamai pencapain tahun sebelumnya. "Targetnya realistis saja, berusaha menyamai tahun sebelumnya," kata dia. 

    Menurut Billy, kualitas Honda Brio yang diproduksi di Pabrik Honda di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, mampu diterima di pasar global. Hal ini tidak menutup kemungkinan adanya perluasan ekspor di tahun depan. "Masih ada penjajakan untuk destinasi ekspor tahun depan, ujar dia.

    Billy menambahkan bahwa kualitas produk yang bersaing membuat negara-negara di ASEAN berminat untuk ikut memasarkan Honda Brio.

    Ekspor perdana Honda Brio dimulai pada Maret 2019. Sekadar informasi, HPM sudah mulai melakukan ekspor CKD (dalam bentuk terurai) sejak 2013 untuk 11 produk mereka ke 12 negara tujuan ekspor mencakup benua Asia dan Amerika, dengan nilai ekspor mencapai Rp 12 triliun, terhitung sampai dengan tahun fiskal 2018.

    Toyota Indonesia juga menilai krisis global dapat menghambat laju ekspor mobil tahun ini. Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Warih Andang Tjahjono, menyampaikan bahwa krisis global dirasakan sangat signifikan memperlambat laju pertumbuhan ekspor produk Toyota dari Indonesia.

    Belum lagi ditambah adanya hambatan dengan skema non-tarif di beberapa negara tujuan ekspor yang turut memperburuk performa pengiriman produk otomotif dari dalam negeri.

    “Tantangan ekspor otomotif ke depan adalah menurunnya konsumsi produk otomotif imbas dari melemahnya kondisi perekonomian di negara maju. Mencari negara-negara tujuan baru menjadi penting untuk mempertahankan performa ekspor,” kata Warih dalam keterangan tertulis beberapa waktu lalu.

    Menurut dia, adanya tambahan negara tujuan baru di kawasan Amerika Tengah, Mekong dan Afrika cukup membantu dalam mengompensasi penurunan volume di beberapa negara terdampak krisis dan negara yang menerapkan hambatan non-tarif.

    Presiden Joko Widodo meresmikan pencapaian ekspor kendaraan secara utuh (completely built-up/CBU) milik Toyota yang mencapai 1 juta unit dari berbagai varian di IPC Car Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Rabu, 5 September 2018. Tempo/Tony Hartawan

    PT TMMIN melaporkan pencapaian ekspor sepanjang 2019 dalam bentuk utuh (completely built up/CBU) sebesar 208.500 unit. Angka ini meningkat tipis dibanding ekspor 2018 sebanyak 206.500. Pencapaian 2019 diklaim sebagai ekspor tertinggi dalam lima tahun terakhir.

    Performa ekspor ini disokong oleh model Sport Utility Vehicle (SUV) Toyota Fortuner dan Toyota Rush masing-masing sebesar 45.300 unit dan 50.300 unit. Model sedan Toyota Vios turut mendukung capaian positif ekspor CBU bermerek Toyota dengan volume 31.000 unit.

    Dari segmen Multi-Purpose Vehicle (MPV), model-model andalan seperti Kijang Innova dan Avanza berhasil dikapalkan ke mancanegara dengan volume masing-masing 5.300 unit dan 28.900 unit. Model Low Cost Green Car (LCGC) Agya juga ambil bagian dalam capaian ekspor tahun 2019 dengan volume 27.800 unit. Sedangkan model Yaris, Sienta, dan Town Ace/Lite Ace melengkapi kinerja ekspor CBU bermerek Toyota dengan total volume sebesar 19.900 unit.

    Selain mengekspor kendaraan utuh, Toyota juga mengirimkan kendaraan terurai (Complete Knock Down/CKD) sebanyak 45.400 unit, mesin bensin dan etanol dengan tipe TR dan NR dengan total 123.600 unit serta komponen kendaraan dengan volume 94,2 juta unit. Produk ekspor Toyota telah merambah lebih dari 80 negara tujuan di kawasan Asia-Pasifik, Timur Tengah, Amerika Latin, Afrika dan Karibia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akhir Cerita Cinta Glenn Fredly

    Glenn Fredly mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 8 April 2020 di RS Setia Mitra, Jakarta. Glenn meninggalkan cerita cinta untuk dikenang.