Toyota Recall 3,4 Juta Mobil di Seluruh Dunia Gara-gara Airbag

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bulan Januari 2010, PT Toyota Astra Motor (TAM) berhasil mencatat penjualan sebanyak 19.459 unit. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

    Bulan Januari 2010, PT Toyota Astra Motor (TAM) berhasil mencatat penjualan sebanyak 19.459 unit. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

    TEMPO.CO, JakartaToyota mengumumkan bakal menarik kembali (recall) sebanyak 3,4 juta unit kendaraannya di seluruh dunia. Penarikan ini, disebabkan oleh dugaan cacat elektronik pada sistem airbag, yang dapat menyebabkan fitur standar keamanan itu tak berfungsi ketika terjadi kecelakaan.

    Seperti dilansir dari Carscoops, tanpa Airbag yang mumpuni maka tentu akan berimbas pada risiko cedera dan kematian. Penarikan kembali ini terkait dengan adanya satu laporan kecelakaan fatal.

    Secara detail mekanisme penarikan ini akan melibatkan sekitar 2,9 juta unit kendaraan di Amerika Serikat, seperti Corolla 2011-2019, Matriks 2011-2013, Avalon 2012-2018, dan Avalon Hybrid 2013-2018.

    Toyota menerangkan, bahwa kendaraan-kendaraan yang terdampak mengalami kegagalan fungsi pada unit eletroniknya ketika terjadi kecelakaan. Karena tidak memiliki perlindungan yang tepat terhadap kebisingan listrik. Sehingga menyebabkan kantung udara tidak mengembang. Hal tersebut, juga bisa menghambat pengoperasian pretensioner sabuk pengaman.

    Pada April lalu, Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional Amerika Serikat (NHTSA) memperluas penyelidikan kepada 12,3 juta unit Airbag yang berpotensi rusak dan mencakup sejumlah produsen mobil, termasuk kendaraan yang di-recall Toyota.

    NHTSA mengatakan, bahwa pihaknya telah mengidentifikasi dua peristiwa tabrakan frontal, termasuk satu tabrakan fatal yang melibatkan mobil Toyota. Di mana pada peritiwa tersebut airbag jelas tidak berfungsi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).