Alasan Hino Indonesia Lebih Fokus Jualan Truk Ketimbang Bus

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja memasang bagian depan truk saat menyelesaikan perakitan di pabrik perakitan truk Hino Indonesia Manufacturing, Purwakarta, Jawa Barat, 19 Maret 2015. Tempo/Tony Hartawan

    Pekerja memasang bagian depan truk saat menyelesaikan perakitan di pabrik perakitan truk Hino Indonesia Manufacturing, Purwakarta, Jawa Barat, 19 Maret 2015. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, JakartaHino Motors Sales Indonesia menargetkan penjualan 36 ribu unit kendaraan pada tahun 2020. Segmen truk akan lebih digenjot ketimbang bus.

    "Untuk bus kami tetap menjaga capaian tahun 2019, karena tidak semua orang main di segmen itu. Bus itu lebih banyak memperbarui yang lama," ujar Direktur Penjualan dan Promosi PT Hino Motors Sales Indonesia, Santiko Wardoyo, Kamis, 23 Januari 2020.

    Bus itu ada siklusnya, kata Wardoyo, sekitar 3-4 tahun baru ramai lagi. Kalau untuk Hino sendiri, siklus pembeliannya pada tahun 2017.

    "Jadi tahun ini atau tahun depan lah baru banyak lagi," ujarnya.

    Adapun penjualan bus atau sasis bus Hino pada tahun 2019 hanya 1,280 unit. Bus yang dimaksud adalah Hino R260 dan RN285. "Bus memang kecil cuman 10 persen lah," katanya. 

    Sementara itu, untuk penjualan truk sepanjang tahun 2019, Hino berhasil menjual truk Ranger sebanyak 17.004 unit dan Dutro 14.299 unit. Market sharenya di atas 20 persen dari total penjualan 31.471 unit kendaraan Hino tahun 2019.

    "Target kami untuk truk, mempertahankan posisi sebagai market leader dengan market share untuk Ranger 65 persen dan Dutro tumbuh menjadi 25 persen," ujarnya.

    Sebagai tambahan, Hino Indonesia berencana meluncurkan produk baru pada bulan Maret 2020. Produk baru nantinya, disebut hadir dari segmen truk medium.

    "Ada kebutuhan untuk truk medium, tapi nantilah soal itu. Hanya menambah varian," ujar Wardoyo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Misteri Paparan Radiasi Cesium 137 di Serpong

    Bapeten melakukan investigasi untuk mengetahui asal muasal Cesium 137 yang ditemukan di Serpong. Ini berbagai fakta soal bahan dengan radioaktif itu.