Daimler Ingin Produksi 50 Ribu Mobil Listrik Mercedes-Benz EQC

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Thomas Kienzle

    AP/Thomas Kienzle

    TEMPO.CO, Jakarta - Daimler AG, induk perusahaan Mercedes-Benz, menargetkan total produksi model mobil listrik Mercedes EQC dapat mencapai 50.000 unit pada tahun ini.

    Dikutip dari Reuters, Jumat, 24 Januari 2020, Daimler menegaskan proyeksi tersebut tidak mengalami perubahan dari target sebelumnya. Daimler juga menampik rumor bahwa pihaknya akan memangkas jumlah produksi EQC pada tahun ini.

    Sebelumnya, Daimler dikabarkan menyapih target produksi EQC dari 60.0000 unit menjadi 30.000 unit saja. Keputusan ini diambil lantaran penjualan model ini tidak begitu moncer. Dari target penjualan 25.000 pada 2019, realisasinya hanya mencapai kisaran 7.000 unit.

    Pengurangan target produksi juga diduga dilakukan karena terdapat potensi kurangnya pasokan baterai dari LG Chem. Namun demikian, pihak LG Chem menolak mengomentari informasi ini. Daimler juga tidak memberi pernyataan lebih detail tentang rencana produksi EQC. 

    Ketua Serikat Pekerja Daimler Michael Brecht menuturkan bahwa salah satu penyebab sulitnya target baterai terpenuhi adalah persaingan dengan Tesla. Pabrikan asal Amerika Serikat ini telah mencaplok Grohmann Engineering, spesialis otomasi baterai yang sebelumnya untuk Mercedes-Benz.

    Hal ini menjadi masalah besar bagi Daimler yang tengah berupaya meningkatkan produktivitas unit produksi baterainya, Deutsche Accumotive. Persoalan Daimler juga kian pelik dengan produksi EQC yang mengalami potensi kecacatan baut diferensial pada Oktober 2019.

    Potensi kecacatan itu membuat Daimler melakukan recall pada tahun lalu untuk Mercedes-Benz EQC. Masalah produksi ini juga diduga menjadi penyebab ditundanya peluncuran model tersebut di pasar Amerika Serikat hingga 2021.

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).