Lokomotif Tua Berumur Seabad Hidup Kembali, Bisa Tempuh 60 KM

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lokomotif uap yang diproduksi pada 1921 buatan Jerman dengan kode pembuatan 9653 kini bisa beroperasi kembali. TEMPO/M Syaifullah

    Lokomotif uap yang diproduksi pada 1921 buatan Jerman dengan kode pembuatan 9653 kini bisa beroperasi kembali. TEMPO/M Syaifullah

    TEMPO.CO, JakartaLokomotif tua yang sudah berumur seabad ini bisa beroperasi kembali. Lokomotif uap ini diproduksi pada 1921 buatan Jerman dengan kode pembuatan 9653.

    Balai Yasa, bengkel kereta api terbesar yang berada di Yogyakarta merestorasi embahnya lokomotif yang ada di Indonesia ini. Lokomotif tua dengan kode lambung D1410 ini merupakan produk dari Hanomag Hannover, Linden, Jerman tahun 1921. "Loko tua ini jalan ke Solo, dulu memang loko uap ini jurusan Solo-Yogya," kata Eko Budiyanto, Manager Humas PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 6 Yogyakarta, 6 Februari 2020.

    Lokomotif tua itu dibawa ke Balai Yasa Yogyakarta dalam kondisi mati mesin dan rusak pada April tahun lalu. Restorasi lokomotif tua ini memakan waktu sekitar tujuh bulan.

    Hari ini, 6 Februari 2020, lokomotif uap dengan bahan bakar kayu dan batu bara ini kembali bisa beroperasi. Terakhir beroperasi Solo-Yogya pada puluhan tahun lalu.

    “Ini adalah perjalanan bersejarah dari loko uap. Seperti napak tilas karena puluhan tahun lalu ada loko uap dengan jurusan Solo-Yogya. Sekarang hidup lagi walau hanya satu rute perjalanan,” kata Executive Vice President (EVP) PT. KAI Daop 6 Yogyakarta Eko Purwanto.

    Restorasi loko uap ini merupakan permintaan khusus dari Presiden Joko Widodo. Karena sejarah dan potensinya, sangat disayangkan jika hanya berada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sebelumnya.

    Eko Purwanto pun ikut dalam perjalanan perdana kereta uap ini setelah direstorasi. Tidak hanya menumpang, dia justru menjadi masinis loko tua ini. Perjalanan total sejauh 60 kilometer.

    Lokomotif uap ini terakhir beroperasi pada 1977. Lokomotif semacam ini, dulu menjadi andalan di Jawatan Kereta Api. Apalagi di negera pembuatnya, lokomotif semacam ini sangat tangguh di rel yang berada di perbukitan.

    Setelah restorasi, lokomotif ini akan beroperasi. Tetapi tidak untuk kereta transportasi umum. Namun lebih banyak difungsikan sebagai kereta wisata.

    Dari data yang didapat, Lokomotif uap tua ini memiliki panjang 12,6 meter dengan lebar 3 meter. Kecepatan maksimal saat masih aktif mencapai 70 kilometer per jam. Bahan bakar yang digunakan adalah batubara dan kayu jati. Tenaga penggerak berupa sistem uap kering atau superheater.

    Lokomotif tua ini dulu melayani rute Jakarta-Bandung dengan rute Jakarta-Bogor-Sukabumi. Yang mengoperasikan lokomotif ini hanya. Yaitu masinis dan juru api.

    Loko uap ini menjadi satu-satunya yang berhasil direstorasi di Balai Yasa Yogyakarta. Setibanya di Solo, loko uap tua ini akan menggantikan kereta Jaladara. Rute yang dilalui terfokus di perkotaan Solo.

    Data teknis Lokomotif buatan tahun 1921

    -D14 10 - Ex SS 1410.
    -Susunan Roda 2-8-2T.
    -Dibuat oleh Hanomag Hannover, Linden. Jerman
    -Nomor Pembuatan 9653.
    -Tahun Pembuatan 1921.
    -Panjang 12.650 mm
    -Lebar 3.000 mm
    -Tinggi maksimum 3.780 mm

    -Lebar sepur 1.067 mm
    -Diameter roda 1.106 mm
    -kecetapan maksimal: 70 kolometer per jjam
    -bahan bakar: batubara / kayu jati (tergantung model peti api)
    -Sistem rem lokomotif: rem vakum
    -Sistem uap: Uap kering - Superheater.
    -Depo Induk terakhir: Jatinegara.
    -Lintasan dinas: Jakarta-Bogor-Sukabumi.
    Area dinas: Jakarta-Bandung.
    Awak Kabin: 2 (masinis dan juru api).

    MUH SYAIFULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.