Suzuki XL7 Sasar Konsumen di Luar Pasar Ertiga

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suzuki XL7

    Suzuki XL7

    TEMPO.CO, Jakata - Resmi diluncurkan dalam tiga varian, Suzuki XL7 siap meramaikan pasar SUV di Indonesia. Mobil dengan harga Rp 230 jutaan ini akan menyasar konsumen baru dengan karakter emotional product.

    "Agak berbeda, kalau Ertiga 80 persen itu first car buyer. Kalau XL7 itu 43 persennya, additional dan replacement. Jadi hampir 50 persen mereka yang ingin tambah dan ganti mobil," kata Head of Marketing, Suzuki Indomobil Sales (SIS), Donny Saputra, 11 Februari 2020.

    Interior Suzuki XL7 yang diluncurkan hari.

    Karakterisitik konsumen juga beda, kata Donny di sela-sela perkenalan dengan media di Bogor beberapa hari lalu. Menurutnya, walaupun ada pembeli mobil pertama, kebutuhannya lebih kepada emotional product ketimbang fungsional product.

    "Kalau kita bicara Ertiga itu lebih fungsional, kalau XL7 lebih ke emotional. Kita juga melihat pembeli Medium SUV itu kebanyakan sudah pernah punya pengalaman memakai MPV,"ujarnya.

    Interior Suzuki XL7 yang diluncurkan hari.

    Suzuki XL7 sendiri hadir dalam tiga grade atau variab, yakni Aplha, Beta, dan Zeta. Dari ketiga varian itu masing-masing tersedia dalam pilihan transmisi manual dan matik. Namun dalam beberapa bulan ke depan, SIS akan memprioritaskan produksi varian tertinggi.

    "Untuk bulan-bulan pertama, varian Alpha pasti lebih banyak, karena biasanya 6 bulan pertama itu, pembeli lebih suka varian tertinggi,"ujarnya.

    Mesin Suzuki XL7 yang diluncurkan hari.

    Adapun target untuk XL7 di pasar domestik, kata Donny, sebesar 2.000 unit perbulan. Sekitar, 20 persen dari market share segmen Medium SUV.

    "Sekitar 2 ribu unit per bulan, dengan target 30 persen di Jabodetabek dan 70 persennya di luar wilayah itu. Mirip dengan penyebaran MPV lah," ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kebijakan Lockdown Merupakan Kewenangan Pemerintah Pusat

    Presiden Joko Widodo menegaskan kebijakan lockdown merupakan wewenang pusat. Lockdown adalah salah satu jenis karantina dalam Undang-undang.