Pemerintah Jajaki Pengoperasian Terminal Ekspor Mobil Patimban

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan mobil baru terparkir di PT Indonesia Kendaraan Terminal atau IPC Car Terminal, Cilincing, Jakarta, 13 Maret 2018. Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor kendaraan niaga dapat meningkat dan menembus hingga 35 ribu unit pada 2018 dibanding tahun sebelumnya yang berada di angka 27 ribu unit. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    Ratusan mobil baru terparkir di PT Indonesia Kendaraan Terminal atau IPC Car Terminal, Cilincing, Jakarta, 13 Maret 2018. Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor kendaraan niaga dapat meningkat dan menembus hingga 35 ribu unit pada 2018 dibanding tahun sebelumnya yang berada di angka 27 ribu unit. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengelola terminal ekspor mobil, PT Indonesia Kendaraan Terminal (IKT) Tbk, sedang menjajaki peluang pengoperasian terminal mobil pertama Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat. Terminal seluas 25 hektare berkapasitas 218 ribu unit kendaraan utuh (completely build up/CBU) itu akan dibuka pemerintah paling lambat akhir tahun ini.

    Investor Relation PT IKT, Reza Priyambada, mengatakan ekspansi bisnis itu cocok dengan portofolio perusahaan. "Kompetensi IKT cocok untuk tugas itu, meski sepertinya tahap awal Patimban masih untuk distribusi CBU domestik," ucapnya kepada Tempo, Senin, 17 Februari 2020.

    Menurut dia, direksi baru IKT yang dibentuk sejak Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada Oktober tahun lalu tengah mengevaluasi target besar perusahaan. Di area Tanjung Priok, Jakarta Utara, perusahaan kini mengelola terminal ekspor impor mobil dan suku cadang seluas 11,55 hektare. Ada pula terminal untuk kebutuhan distribusi antar pulau seluas 5,17 hektare.

    "Lahan aktif total 16,7 hektare itu akan ditambah 4,68 hektare lagi. Belum termasuk gedung parkir bertingkat yang luasnya setara 3-4 hektare," katanya.

    Perusahaan pun sempat menargetkan pengembangan lahan tampung hingga total 89,5 hektare pada 2022 untuk tampungan 2,1 juta kendaraan. Namun, kata Reza, target itu masih ditinjau kembali. Perluasan area tampung di Priok, termasuk pengadaan alat penunjang, akan didukung belanja modal (capex) IKT sebesar Rp 250 miliar pada tahun ini.

    "Pokoknya kami jajaki potensi baru termasuk Patimban," katanya.

    Sekretaris Perusahaan PT IKT, Sofyan Gumelar, mengatakan lahan aktif entitasnya kini bisa menampung 581 ribu CBU. "Nantinya kami kejar menjadi 660 ribu," katanya.

    Kementerian Perhubungan pun tengah menyiapkan lelang operator Pelabuhan Patimban, setelah mundur dari rencana awal pada Desember 2019. Lelang diperkirakan memakan waktu tiga bulan.

    Sebagai proyek kolaborasi yang dibiayai dari pinjaman Japan International Cooperation Agency (JICA), Patimban bakal dioperasikan perusahaan asal Indonesia dan Jepang. Namun, kepemilikan mayoritas, atau saham 51 persen akan dikuasai operator dalam negeri. Pemerintah yang awalnya menunjuk PT Pelindo II (persero) untuk memegang saham mayoritas akhirnya memperbesar peluang swasta. Astra Infra Port adalah salah satu entitas swasta yang memburu peluang pengelolaan car terminal Patimban.

    Proyek strategis itu dibangun tiga tahapan proyek sejak 2018 hingga 2027 mendatang. Selain terminal CBU, pemerintah pun menyediakan terminal peti kemas seluas 35 hektare berkapasitas 250.000 TEUs, pada pembukaan perdananya nanti.

    Kamis pekan lalu, kementerian dan baru saja meneken kontrak paket pembangunan jembatan penghubung Pelabuhan Patimban yang ditargetkan berfungsi pada September 2020. "Itu akses utama penghubung terminal kendaraan dengan back up area," ucap Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Agus Purnomo.

    Sekretaris Umum Gabungan Industri Otomotif Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara, mengatakan pembukaan terminal distribusi mobil di Patimban akan mempermudah pabrikan yang jauh dari Tanjung Priok. "Kan prediksi ekspor mobil utuh bisa menembus 1 juta pada 2025, kami butuh kemudahan distribusi."

    Mendukung Geliat Ekspor Mobil

    PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk berupaya memperluas area tampung seiring peningkatan potensi ekspor kendaraan utuh (Complete Build Up/CBU). Mencapai 330 ribu unit tahun lalu, kinerja ekspor mobil tengah moncer seiring pertumbuhan produksi mobil domestik sejak 2015.

    A. Produksi kendaraan (utuh dan terurai)
    Tahun | total produksi (juta unit)
    2015 | 1,09
    2016 | 1,17
    2017 | 1,21
    2018 | 1,34

    B. Ekspor kendaraan utuh/CBU (unit)
    2015 | 207.691
    2016 | 194.397
    2017 | 231.169
    2018 | 264.558
    2019 | 330.788

    C. Perbandingan ekspor CBU 2018 dan 2019 dalam beberapa bulan
    1. Ekspor CBU 2018 (unit)
    - September: 26.632
    - Oktober: 26.990
    - November: 24.859
    - Desember: 24.951

    2. Ekspor CBU 2019 (unit)
    - September: 34.174
    - Oktober: 34.468
    - November: 30.948
    - Desember: 29.651

    sumber: PT IKT, Gaikindo

    EKO WAHYUDI | YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.