Test Drive Mazda CX-30: Suspensi Nyaman, Handling Mantap

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mazda CX-30. TEMPO/Wira Utama

    Mazda CX-30. TEMPO/Wira Utama

    TEMPO.CO, Bandung - Lima unit Mazda CX-30 tipe Grand Touring tersedia di halaman Mazda Simprug, Jakarta Selatan, Senin pagi, 24 Februari 2020. Mobil yang sudah dibekali bensin full dan makanan ringan itu disiapkan untuk 10 perwakilan media, Tempo salah satunya.

    Sekira pukul 10.30 WIB, flag-off dikibarkan di halaman dealer yang cat gedungya masih baru itu. Perjalanan menuju Ciwidey, Bandung Selatan, tepatnya di Pinisi Resto dan menginap di Glamping Lakeside Rancabali.

    Keluar dari gerbang delaer, rombongan peserta test drive disambut kemacetan lalu lintas khas Jakarta. Pedal gas dan rem pun dimainkan demi menjaga posisi tetap dalam barisan. Pelan-pelan rombongan lepas dari kepadatan jalan untuk masuk ke jalur tol yang lebih lega.

    Kesan pertama yang bisa dirasakan dari mobil ini adalah kesenyapan di dalam kabin. Nyaris tak terdengar suara yang bising. Sesekali hanya suara dari ban dan knalpot yang sempat terdengar.

    Visibilitas bagi penumpang depan dan driver juga bagus meski bodi mobil ini cukup bongsor.

    Memasuki jalur tol yang relatif lancar jaya saat itu, Mazda CX-30 harus diakui memiliki suspensi yang nyaman. Lebih lembut saat melewati kontur jalan bergelombang, gundukan, bahkan sambungan tol seperti di lajur Tol Layang Jakarta-Cikampek.

    Ya, setidaknya lebih baik dari Mazda3 Hatchback misalnya, yang juga menggunakan platform terbaru, generasi ketujuh.

    "Mazda CX-30 itu platformnya dari Mazda3, kalau Mazda CX-3 platformnya dari Mazda2," ujar Product Planning Eurokars Motor Indonesia, Kenny Wala di sela-sela acara.

    Untuk tenaga, performa mesin Skyactive-G 2L 4 silinder cukup responsif. Data 155 ps dan torsi 200 Nm cukup untuk menjelaskan bagaimana kinerja mesin yang juga tersemat pada Mazda3 tersebut.

    Mazda CX-30. TEMPO/Wira Utama

    "Mungkin dari segi performa lebih baik dari CX-3 lah, dari kekedapan kabinnya juga lebih baik. Begitu juga settingan suspensi yang lebih bagus," ujar Head of Public Relation & Media Communications Eurokars Motor Indoneisia, Fedy Dwi Perilaksono.

    Masih di jalur tol yang panjangnya kurang lebih 80 kilometer itu, fitur seperti Lane Departure Warning (LDW) dan Lane keep Assist System (LAS) Mazda CX-30 sangat memanjakan pengemudi.

    Teknologi itu membantu pengemudi ketika tiba-tiba kehilangan konsentrasi di jalan. Di mana sensor akan memberikan peringatan untuk fokus pada setir, bahkan secara otomotis bisa menggiring mobil kembali ke jalur awal atau mengikuti garis jalan. Fitur ini cukup efektif untuk memberikan keamanan bagi penggunanya.

    Keluar dari jalur tol Jakarta-Bandung rombongan memasuki wilayah Soreang di bagian Selatan Bandung. Di rute ini, jalan mulai sempit dan ramai. Mulai dari mobil angkot, pengendara motor, truk, hingga bus pariwisata. Mau tidak mau, pengemudi dituntut lihai bermanuver.

    Tempo yang mendapat giliran mengemudi pada rute ini, tidak mengalami kendala berarti. Setirnya juga sangat ringan, ditambah dengan posisi kursi yang bisa diatur untuk mendapat pandangan terbaik. Ya, bagi penulis dengan tinggi badan 170 cm, kokpitnya terasa sangat nyaman dan aman.

    Selain itu, fitur-fitur seperti G-Vectoring Control Plus juga sangat membantu menstabilkan mobil saat melewati berbagai macam kelokan. Mobil mudah dikontrol, termasuk saat memasuki kawasan Ciwidey yang sarat dengan belokan dan tanjakan.

    Adapun catatan dari mobil ini, adalah kursi penumpang di bagian belakang yang kurang lega. Ya, untuk mereka yang ukuran badannya terlalu tinggi atau gemuk, disarankan untuk mengetes lebih dulu sebelum membeli.

    Namun secara umum, Mazda CX-30 perlu dipertimbangkan. Khususnya untuk mereka yang ingin membeli atau menambah koleksi SUV-nya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.