Wabah Virus Corona Tak Ganggu Aktivitas Bisnis DFSK di Indonesia

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Produksi pertama DFSK Glory 560 di Pabrik Sokonindo Automobile di Cikande, Serang, Banten. Maret 2019. (DFSK)

    Produksi pertama DFSK Glory 560 di Pabrik Sokonindo Automobile di Cikande, Serang, Banten. Maret 2019. (DFSK)

    TEMPO.CO, Jakarta - Wabah Virus Corona yang melanda wilayah sejumlah negara, tak terkecuali Cina? menggoyang sejumlah aktivitas bisnis otomotif dunia. Beruntung, PT Sokonindo Automobile sebagai Agen Pemegang Merek DFSK sudah merampungkan impor spare part dan logistik untuk produksi di Indonesia pada akhir Desember 2019 lalu.

    "Kami pastikan spare parts sudah tersedia, karena kita proyeksinya tahunan. Jadi akhir 2019 kemarin itu, semua spare parts produksi dan logistik untuk produksi sudah sampai di pabrik,"ujar Technical Training dan Service Manager PT Sokonindo Automobile, Sugiartono, Kamis 12 Maret 2020.

    Hanya saja, kata Sugiartono, apabila pembatasan impor akibat wabah corona berlanjut hingga akhir tahun 2020 ini. Maka otomatis produksi DFSK Indonesia akan berdampak pada tahun 2021. "Pasti berdampak pada produksi tahun depan,"ujarnya.

    Sokonindo Automobile sendiri diketahui telah memiliki pabrik dengan kapasitas produksi 50.000 unit per tahun di Cikande dan Cikarang. Ya, setidaknya tahun 2020 ini DFSK masih terbebas dari beban pembatasan impor akibat wabah Corona tersebut.

    "Stok spare parts untuk semua model tahun ini sudah aman. Mulai dari komersial hingga 560, 580, dan i-Auto,"ucapnya.

    Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) juga mewaspadai dampak panjang dari penyebaran virus corona. Ketua Umum Gaikindo Yohanes Nangoi mengatakan dampak panjang dari virus tersebut berpeluang menjadi tantangan bagi industri otomotif nasional yang menargetkan pertumbuhan lima persen tahun 2020.

    “Rasanya kami tak boleh memandang remeh kasus virus corona yang mulai mengganggu. Kalau berlanjut lebih lama lagi, ini sangat berdampak,” kata Nangoi.

    Dia menambahkan bahwa posisi Cina saat ini sangat memengaruhi perekonomian global. Kondisi itu sangat berbeda jauh ketika China dilanda wabah Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) pada 2002 sampai 2003. Pada saat itu, perekonomian Cina hanya 4 persen dunia, sedangkan saat ini mencapai 17 hingga 18 persen. “Indonesia banyak mengekspor komoditas ke Cina. Jika Cina sedikit saja slow down, otomatis ekonomi Indonesia akan terpengaruh,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.