Wabah Corona Meluas, Industri Otomotif Bersiap Kurangi Produksi

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Proses perakitan Toyota Sienta di Pabrik Karawang Plant II PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Karawang, Jawa Barat, Kamis 8 Desember 2016. TEMPO/Fery Firmansyah

    Proses perakitan Toyota Sienta di Pabrik Karawang Plant II PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Karawang, Jawa Barat, Kamis 8 Desember 2016. TEMPO/Fery Firmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Penjualan mobil anjlok sejak wabah virus corona melanda. Pelaku industri otomotif pun bersiap mengurangi produksi. Sales Director PT Honda Prospect Motor (HPM), Yusak Billy, mengatakan saat ini perusahaan terus menyesuaikan tingkat produksi dengan mengikuti permintaan pasar. "Kami harus melakukan penyesuaian produksi untuk menjaga stok di level yang sehat," kata dia, Koran Tempo, 31 Maret 2020.

    Yusak belum dapat menyebutkan angka penurunan produksi yang direncanakan HPM. Dia mengatakan manajemen HPM masih terus memantau kondisi yang masih bisa berubah setiap saat. Menurut Yusak, HPM juga menyiapkan berbagai skenario, termasuk penghentian produksi sementara jika diperlukan. "Strategi kami adalah terus menjaga keseimbangan stock level sambil terus menjaga komunikasi dengan konsumen," tutur dia.

    Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil pada Januari sebanyak 80.424 unit dan Februari 79.573 unit. Volume penjualan lebih rendah ketimbang periode sama tahun lalu, yaitu 82.155 unit dan 81.809 unit.

    Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azzam, mengatakan pengurangan produksi dilakukan sesuai dengan kondisi pasar. Sejak pemerintah memberlakukan pembatasan interaksi sosial, kata Bob, TMMIN sudah meminta 75 persen karyawan untuk bekerja dari rumah.

    Dari sisi produksi, Bob mengatakan sudah membatasi jumlah tenaga kerja dengan cara kerja bergilir. Sampai saat ini, Bob mengatakan TMMIN masih bisa mengekspor kendaraan beberapa tipe. "Semua sudah ada dalam business continuity planning (BCP) kapan harus stop," ujar Bob.

    General Manager Sales PT Isuzu Astra Motor Indonesia, Andi Dwizatmoko, mengatakan penjualan periode Januari-Februari menurun 4,1 persen jika dibanding periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini, kata dia, terjadi akibat penyebaran COVID-19 yang sudah dinyatakan sebagai pandemi global oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Andi berharap tingkat penyebaran COVID-19 akan menurun pada pertengahan tahun ini. Namun, kata dia, tentu akan perlu waktu untuk memperbaiki kondisi perekonomian, sehingga industri otomotif benar-benar pulih. Untuk menekan dampaknya, Andi mengatakan, Isuzu Indonesia tengah menggodok beberapa program untuk memudahkan konsumen.

    "Kemudahan pembiayaan maupun dalam layanan after-sales services," ujar dia. Isuzu Indonesia mengandalkan Isuzu Traga dan Isuzu Elf untuk mendukung operasi logistik ke daerah-daerah. Selain itu, Isuzu berencana meluncurkan produk baru yang akan dirilis pada momentum Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS). "Untuk saat ini kami masih produksi secara normal karena kami sudah ada beberapa proyek yang harus kami penuhi," tutur Andi.

    Deputy Marketing Director PT Hyundai Mobil Indonesia, Hendrik Wiradjaja, mengatakan produksi Hyundai H-1 di pabrik perakitan (assembly) di Bekasi, Jawa Barat, masih berjalan. Namun pandemi COVID-19 membuat perusahaan harus membatasi jumlah tenaga kerjanya.

    Adapun penurunan penjualan terjadi, kata Hendrik, karena terhambatnya pengiriman mobil dalam complete built-up (CBU) dari Korea. "Karena imbauan physical distancing, aktivitas showroom dan bengkel pun berhenti. Hanya yang sifatnya emergency kami tetap melayani," ujar Hendrik.

    Hendrik belum bisa memastikan kapan industri otomotif benar-benar pulih, termasuk soal rencana meluncurkan produk baru. Dengan kondisi seperti saat ini, Hendrik berujar, semua rencana perusahaan harus dibicarakan dan dijadwalkan dari awal. "Kami masih terus membahas, sambil terus melihat kondisi," ujar Hendrik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTUN: Blokir Internet di Papua dan Papua Barat Melanggar Hukum

    PTUN umumkan hasil sidang perihal blokir internet di Papua dan Papua Barat pada akhir 2019. Menteri Kominfo dan Presiden dinyatakan melanggar hukum.