Dua Karyawan Nissan di Jepang Terinfeksi Virus Corona

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo Nissan. REUTERS/Aly Song

    Logo Nissan. REUTERS/Aly Song

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang karyawan Nissan Motor Co dinyatakan terinfeksi virus corona baru atau COVID-19. Total, sudah ada dua orang pekerja di perusahaan tersebut yang terjangkit pandemi corona.

    Dilansir dari laman resmi Nissan, Selasa, 7 April 2020, karyawan yang terjangkit corona itu bekerja di kantor pusat Nissan di Yokohama, Jepang. Dia dinyatakan positif pada 4 April.

    Karyawan tersebut mulai menunjukkan gejala COVID-19 pada 23 Maret. Baru pada 3 April dia melakukan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) dan didiagnosis positif pada keesokan harinya. Pegawai itu belum bekerja selama 17 hari, sejak 20 Maret.

    Selama periode tersebut, karyawan yang bekerja di kantor Nissan di prefektur Kanagawa dan Tokyo diminta untuk bekerja dari rumah. Namun, untuk pekerjaan penting yang menyangkut bisnis perusahaan tetap dilakukan di tempat.

    Sebelumnya, seorang karyawan yang bekerja di lini perakitan Nissan Motor Kyushu di Fukuoka dinyatakan positif COVID-19 pada 31 Maret. Dengan demikian, sudah ada dua orang karyawan Nissan yang terinfeksi virus corona.

    Akibatnya, aktivitas di Nissan Motor Kyushu ditangguhkan untuk menjaga keselamatan dan keamanan karyawan lainnya. Proses desinfeksi juga dilakukan di pabrik tersebut.

    Melalui keterangan resminya, Nissan dan Nissan Motor Kyushu meminta maaf atas kecemasan atau kekhawatiran yang telah ditimbulkan oleh komunitas lokal dan pemangku kepentingan

    "Kami akan terus memprioritaskan keselamatan dan kesehatan para pemangku kepentingan kami, termasuk karyawan dan keluarga mereka, dan untuk bekerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk mencegah penyebaran virus corona," tulis keterangan resmi tersebut.

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.