Pandemi Corona, Ventilator dari Industri Otomotif Selesai Diuji

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir saat melihat uji coba alat ventilator milik Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM di Rumah Sakit Pertamina Jaya, Cempaka Putih, Kamis, 16 April 2020. Erick Thohir berharap wabah COVID-19 ini menjadi titik balik bagi Indonesia untuk menghasilkan produk kesehatan dalam negeri khususnya ventilator guna menunjang fasilitas Rumah Sakit yang ada di Indonesia. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir saat melihat uji coba alat ventilator milik Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM di Rumah Sakit Pertamina Jaya, Cempaka Putih, Kamis, 16 April 2020. Erick Thohir berharap wabah COVID-19 ini menjadi titik balik bagi Indonesia untuk menghasilkan produk kesehatan dalam negeri khususnya ventilator guna menunjang fasilitas Rumah Sakit yang ada di Indonesia. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Lewat Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo), pemerintah meminta industri otomotif memproduksi alat bantu pernapasan atau ventilator untuk penanganan pasien virus corona seperti yang telah dilakukan produsen otomotif sejumlah negara di Eropa dan Amerika Serikat.

    Sekteraris Jenderal Gaikindo, Kukuh Kumara, mengklaim bahwa salah satu perusahaan yang memasok komponen untuk industri otomotif telah mengembangkan ventilator di Indonesia. Kabar terbaru itu diterima pekan lalu, dan disebut sudah selesai diuji coba bersama Kementerian Kesehatan.

    "Saat ini persiapan ke tahapan berikutnya," ujar Kukuh kepada Tempo, Senin, 20 April 2020.

    Sayangnya, Kukuh tidak merinci lebih detil sudah sejauh mana perkembangan ventilator tersebut. Tetapi yang jelas, kata dia, lagi pembuatan ventilator akan mendapatkan prioritas. Dia berharap, jika sudah memasuki tahapan produksi massal, industri otomotif lainnya bisa berkolaborasi dalam kegiatan kemanusiaan tersebut.

    "Maaf karena keterbatasan bergerak saat ini, saya belum mendapatkan updatenya. Tapi yang jelas, kami berharap ada tambahan pemain atau pemasok yang ikut berkolaborasi," ujarnya.

    Assisten Manager Public Relations PT Honda Prospect Motor, Yulian Karfili saat dikonfirmasi terkait kesiapan membantu proses pembuatan produksi ventilator mengaku siap. Pastinya, kata dia, Honda siap dukung sesuai arahan pemerintah. "Kami akan bantu sesuai dengan kapasitas yang kami miliki," ucap Arfi kepada Tempo.

    Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal, Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam juga berpendapat sama. Kata dia, saat ini TMMIN menunggu informasi terbaru dari Kemenperin.

    "Ventilator itu domainnya industri komponen. Jadi karena yang koordinir adalah Kemenperin. Kami siap mendukung," kata dia.

    Corporate Planning & Communication Director Astra Daihatsu Motor, Amelia Tjandra, juga masih menunggu petunjuk lanjutan terkait ventilator. Hingga saat ini, kata dia, belum ada blueprint terkait ventilator yang diterima Daihatsu.

    "Kami belum terima (blueprint ventilator) dan saat ini pabrik Daihatsu juga tutup karena masih masa PSBB," ujarnya.

    Sebelumnya, Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi mengatakan bahwa dalam upaya mendorong anggotanya untuk memproduksi ventilator, Gaikindo telah meminta kepada pemerintah untuk dapat menyediakan rekanan kompeten. Menurutnya, industri membutuhkan pendamping, khususnya industri yang memiliki pengalaman dan keahlian dalam pembuatan ventilator.

    Pendamping itu diharapkan bisa membantu mulai dari menjabarkan blueprint terkait teknis pembuatan ventilator, alih teknologi, hingga memodifikasi fasilitas perakitan mobil yang ada saat ini. Itu dibutuhkan kata Nangoi, untuk dijadikan pedoman dalam memproduksi ventilator dan menentukan standar bahan baku kepada penyuplai komponen.

    Tempo sudah mencoba mengkonfirmasi ulang terkait perkembangan terbaru ventilator kepada pihak Kemenperin dengan menghubungi Putu Juli Ardika selaku Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Pertahanan Kementerian Perindustrian. Sayangnya, Putu belum merespons pertanyaan yang diberikan hingga berita ini selesai ditulis.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.