Cegah Corona, Nissan Tutup Sementara Kantor Pusat di Jepang

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo Nissan. REUTERS/Aly Song

    Logo Nissan. REUTERS/Aly Song

    TEMPO.CO, TokyoNissan Motor Co mengatakan akan menutup sementara operasional di kantor pusat global dan fasilitas lainnya di Jepang hingga awal Mei 2020. Keputusan ini untuk meredam penyebaran virus corona baru (COVID-19).

    Produsen mobil Jepang itu mengatakan akan mengurangi operasi hingga level minimum di kantor pusatnya di Yokohama bersama dengan fasilitas non-produksi lainnya, termasuk di Atsugi, Prefektur Kanagawa, di mana pusat R&D utamanya berada.

    Penutupan 16 hari akan berlangsung mulai 25 April hingga 10 Mei, mempengaruhi total 15.000 karyawan, kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Reuters, Selasa, 21 April 2020.

    Sejak pandemi virus corona baru merebak, Nissan telah menutup sebagian besar fasilitas produksi globalnya, termasuk aktivitas produksi di banyak pabrik kendaraannya di Jepang. Penangguhan produksi bukan semata karena wabah virus corona, tapi juga disebabkan karena anjloknya permintaan kendaraan di pasar domestik maupun global. 

    Nissan bahkan telah menderita kerugian yang cukup besar setelah penjualan dan laba Nissan merosot sebelum wabah corona menyebar. Situasi ini membuat Nissan harus mundur dari rencana ekspansi agresif yang semula dilakukan oleh mantan bos mereka, Carlos Ghosn. Pandemi virus corona hanya menumpuk kerugian perusahaan menjadi lebih buruk saat ini. 

    Nissan akan mengumumkan rencana pemulihan baru bulan depan. Sumber mengatakan kepada Reuters bahwa eksekutif melihat perlunya perusahaan untuk menjadi perusahaan yang jauh lebih kecil. Perusahaan juga akan memangkas target penjualan sebanyak 1 juta mobil lebih sedikit daripada target tahunan saat ini yaitu 6 juta unit. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sel Dendritik dan Vaksin Nusantara Bisa Disuntik Berulang-ulang Seumur Hidup

    Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret menjelaskan proses pembuatan vaksin dari sel dendritik. Namun, vaksin bisa diulang seumur hidup.