Corona, Penjualan Mobil di Eropa April 2020 Turun 67 Persen

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karyawan bekerja pada lini produksi dan kontrol kualitas mobil Renault Kangoo di pabrik Renault Maubeuge Construction Automobile di Maubeuge, Prancis, 8 November 2018. Renault Kangoo mulai diproduksi sejak tahun 1997 untuk pasaran Eropa. REUTERS/Philippe Wojazer

    Karyawan bekerja pada lini produksi dan kontrol kualitas mobil Renault Kangoo di pabrik Renault Maubeuge Construction Automobile di Maubeuge, Prancis, 8 November 2018. Renault Kangoo mulai diproduksi sejak tahun 1997 untuk pasaran Eropa. REUTERS/Philippe Wojazer

    TEMPO.CO, Jakarta - Pendaftaran kendaraan baru (penjualan mobil) tipe komersial di Uni Eropa pada April 2020 anjlok 67 persen, tertekan dampak penguncian sepanjang bulan oleh hampir seluruh negara di kawasan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

    Berdasarkan data European Automobile Manufacture Association (ACEA), tekanan pandemi Covid-19 telah menginfeksi 27 dari anggota Uni Eropa, yang menyebabkan permintaan pasarnya lunglai.

    Sejumlah negara, yang menerapkan upaya-upaya mencegahan Covid-19 secara ketat tercatat menderita penurunan penjualan mobil yang parah, seperti Spanyol (-87,8 persen), Italia (-85,5 persen) dan Prancis (-82,4 persen).

    Tercatat seluruh segmen kendaraan komersial menderita penurunan penjualan pada April 2020.

    Adapun sepanjang empat bulan pertama tahun ini, permintaan UE terhadap kendaraan komersial berkontraksi 34,5 persen, terutama akibat dampak virus corona pada Maret dan April 2020.

    Empat negara tercatat menderita pelemahan permintaan hingga 2 digit, yakni Spanyol (-46,6 persen), Prancis (-41,6 persen), Italia (-41,4 persen) dan Germany (-22,5 persen). Keempatnya merupakan negara pabrikan kendaraan bermotor yang selama ini memimpin penjualan mobil di Eropa. 

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sel Dendritik dan Vaksin Nusantara Bisa Disuntik Berulang-ulang Seumur Hidup

    Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret menjelaskan proses pembuatan vaksin dari sel dendritik. Namun, vaksin bisa diulang seumur hidup.