Ford Bronco Meluncur 13 Juli, Tampangnya Offroad Tulen

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Render Ford Bronco. Sumber instagram @Mo Aoun

    Render Ford Bronco. Sumber instagram @Mo Aoun

    TEMPO.CO, Jakarta - Peluncuran Ford Bronco mengalami penundaan berkali-kali, terakhir awalnya SUV ini akan dirilis ke publik pada 9 Juli namun diubah 13 Juli 2020. Meski demikian, publik sangat menunggu kehadirannya sebagai pesaing dari Jeep Wrangler dan Suzuki Jimny. Bahkan satu bulan sebelum peluncurannya, kembali muncul penampakan dengan low resolution.

    Ford Bronco dikabarkan akan memiliki banyak fitur baru untuk mengalahkan para pesaingnya. Mobil ini dengan mudah dilepas pintu dan bagian atasnya layaknya jip penjelajah. Selain itu pemasangannya juga mudah. Satu lagi low gearnya juga menjadi andalan saat menghadapi medan berat.

    Dari sejumlah bocoran yang ada, salah satu seniman desain Mo Aoun seperti dikutip dari CarScoops, menggarap render dari Ford Bronco. Dari gambar itu, Bronco menggunakan velg hitam kecil dan ban off-road. Foto-foto yang bocor dari Bronco baru telah menunjukkan bahwa itu akan ditawarkan dengan sejumlah pilihan roda dan ban yang berbeda dan ini adalah yang paling garang dan akan sempurna untuk konsumen yang berencana untuk membelinya dengan tujuan menjelajah medan berat.

    Render Ford Bronco. Sumber instagram @Mo Aoun

    Bronco dua pintu ini mencakup skid plate di bagian depan serta dua kait penarik yang menonjol. Ada juga satu set tangga samping, rel atap, dan atap hitam yang akan dilepas, seperti atap Jeep Wrangler. Melihat ke belakang ada penutup lumpur dan roda cadangan.

    Bronco baru menggunakan sejumlah mesin yang berbeda. Mesin EcoBoost empat silinder 2,3 liter dengan tenaga 270 hp dan torsi 420 Nm dan mesin EcoBoost V6 2,7 liter yang menghasilkan tenaga 325 hp dan torsi 542 Nm.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sel Dendritik dan Vaksin Nusantara Bisa Disuntik Berulang-ulang Seumur Hidup

    Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret menjelaskan proses pembuatan vaksin dari sel dendritik. Namun, vaksin bisa diulang seumur hidup.