My Nitro Siapkan Alat Pengisian Angin Ban Berbasis Digital

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi My Nitro. (My Nitro)

    Ilustrasi My Nitro. (My Nitro)

    TEMPO.CO, Jakarta - Dirintis sejak tahun 2012, perusahaan penyedia angin Nitrogen untuk ban kendaraan bermotor, My Nitro, siap meluncurkan alat pengisian angin berbasis teknologi industri 4.0. Alat My Nitro ini memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari kualitas gas kualitas nitrogen hingga sistem pembayaran cashless (non tunai).

    "My Nitro pakai gas dari Samator dan sudah kerja sama denga perusahaan Uang Elektronik dan Dompet Elektronik," kata Founder dan CEO My Nitro, Muchlis saat ditemui, Rabu, 15 Juli 2020.

    Muchlis menuturkan bahwa sistem pembayaran cashless memungkinkan konsumen mendapat berbagai cashback dan promo menarik. Sehingga konsumen tidak terbebani dengan asumsi bahwa harga angin nitrogen itu mahal.

    "Kami juga mau mematahkan asumsi itu, harga angin nitrogen gak mahal-mahal amat, sangat sebanding dengan kualitasnya," ujarnya.

    Selain itu, alat My Nitro yang akan diluncurkan pada 25 Juli nanti ini juga sudah berbasis Eco Green. Di mana setiap pembelian sudah tidak menggunakan struk kertas.

    "Kalau mau struk mesti masukin email, setelah itu otomatis dikirim," ujarnya.

    Muchlis menegaskan bahwa melakukan pengisian angin nitrogen lewat My Nitro akan menciptakan pengalaman menarik. Ya, sekalipun sistemnya berbasis self service, namun dia menjamin tak akan merepotkan konsumen.

    "Semuanya lewat layar, tinggal sentuh atau usap (touchscreen) pilihan-pilihan yang ada. Mau isi angin dengan tekanan berapa, bayar pakai apa, dan sebagainya. Detailnya akan kami sampaikan nanti," ujarnya.

    Adapun harga yang dipatok My Nitro untuk ban mobil adalah Rp 10 ribu per ban (pengisian baru dari kosong) dan pengisian ulang Rp 5 ribu. Sementara untuk ban motor, dibanderol Rp 5 ribu untuk isi baru dan untuk isi ulang Rp 2.500 per ban.

    "Sementara harganya begitu, nanti akan kami sesuaikan lagi," ujar Muchlis yang juga sebagai Co-Founder IFM (Indonesian Future Marketing) sebuah komunitas beranggotakan praktisi bisnis & marketing di Indonesia.

    Muchlis dan timnya saat ini juga sedang menggarap program Hawk Eye yang disebut mampu mengontrol BBM bersubsidi di SPBU. Selain itu, ada juga Program Silent Police, yang dia sebut sebagai aplikasi tilang elektronik canggih.

    "Mimpi saya masih banyak, saya ingin berperan di dunia inovasi," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jaksa Pinangki Ditahan, Diduga Terima Rp 7,4 Miliar dari Djoko Tjandra

    Kejaksaan Agung menetapkan Jaksa Pinangki sebagai tersangka dalam perkara dugaan gratifikasi. Ia dikabarkan menerima Rp 7,4 Miliar dari Djoko Tjandra.