Daimler Rugi Rp 32 Triliun Gara-gara Covid-19

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ola Kallenius, ketua dewan Daimler AG dan Mercedes-Benz AG, mengendarai mobil konsep Mercedes-Benz Vision AVTR, selama CES 2020 di Las Vegas, Nevada, AS, 6 Januari 2020. Komponen dalam mobil ini terinspirasi dari film Avatar. REUTERS/Steve Marcus

    Ola Kallenius, ketua dewan Daimler AG dan Mercedes-Benz AG, mengendarai mobil konsep Mercedes-Benz Vision AVTR, selama CES 2020 di Las Vegas, Nevada, AS, 6 Januari 2020. Komponen dalam mobil ini terinspirasi dari film Avatar. REUTERS/Steve Marcus

    TEMPO.CO, JakartaGrup otomotif Jerman, Daimler, melaporkan kerugian bersih 1,9 miliar Euro (2,2 miliar Dolar AS/Rp 32,4 triliun) pada kuartal kedua (Q2) 2020.

    Seperti dilansir Antara dari Xinhua pada hari ini, Senin, 27 Juli 2020, kerugian itu sangat dipengaruhi pandemi Covid-19 yang menurunkan permintaan.

    "Karena pandemi Covid-19 yang belum pernah terjadi sebelumnya, kami harus menanggung beban kuartal yang menantang," kata Chairman of Board Management Daimler, Ola Kaellenius.

    Kaellenius menjelaskan pendapatan tahunan mereka juga turun 12,5 miliar Euro menjadi 30,2 miliar Euro pada kuartal II/2020.

    Pada kuartal II/2020 penjualan Mercedes-Benz turun 30 persen menjadi 480.800 kendaraan.

    Daimler mengklaim penjualan model-model baru masih dapat diandalkan di tengah pandemi Covid-19.

    Penjualan mobil model truk dan bus Daimler turun 55 persen secara tahunan menjadi 61.000 unit pada kuartal II/2020.

    Daimler memprediksi Covid-19 terus memberikan dampak yang kuat hingga akhir tahun. Penurunan besar output ekonomi global juga akan trjadi sampai akhir 2020.

    Meski begitu, Kaellenius menyebutkan bahwa terdapat sisi positif selama pandemi, yakni menguat permintaan segmen mobil listrik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sel Dendritik dan Vaksin Nusantara Bisa Disuntik Berulang-ulang Seumur Hidup

    Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret menjelaskan proses pembuatan vaksin dari sel dendritik. Namun, vaksin bisa diulang seumur hidup.