Fitur Autopilot Tesla Dikalahkan Audi, BMW, Mercedes-Benz, Ford, dan Nissan

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sedan Tesla Model S yang berisi fitur Autopilot fitur dipamerkan dalam acara Tesla di Palo Alto, California, 14 Oktober 2015.  Fungsi autopilot ini masih dalam modus beta, dan sopir dianjurkan untuk tidak mengemudi

    Sedan Tesla Model S yang berisi fitur Autopilot fitur dipamerkan dalam acara Tesla di Palo Alto, California, 14 Oktober 2015. Fungsi autopilot ini masih dalam modus beta, dan sopir dianjurkan untuk tidak mengemudi "lepas tangan" sepenuhnya. REUTERS/Beck Diefenbach

    TEMPO.CO, Jakarta - Fitur Autopilot mobil Tesla mendapatkan skor kurang memuaskan yakni enam dari 10 poin menurut penilaian European New Car Assessment Program (NCAP).

    Reuters melaporkan pada Jumat lalu, 2 Oktober 2020, bahwa secara keseluruhan mobil Tesla Model 3 memperoleh skor 131 poin untuk mendapat predikat "sedang."

    Adapun Mercedes GLE mendapatkan skor tertinggi, yakni 174 poin dengan predikat "sangat baik." Selain Mercedes GLE, mobil BMW 3-Series dan Audi Q8 juga menerima peringkat "sangat baik." Ford Kuga dengan sistem Co-Pilot 360 mendapatan peringkat "baik."

    Di peringkat kelima ada Nissan Juke dengan sistem ProPILOT yang mendapat predikat "Moderate." Sedangkan Renault Clio berada pada peringkat terendah.

    NCAP, yang bekerja dengan grup asuransi Inggris Thatcham Research, berharap penilaian tersebut menjadi rujukan penilaian konsumen untuk mengetahui teknologi baru pada mobil. Lembaga ini mencontohkan, driver assistance yang berkontribusi pada kinerja akselerasi, pengereman, dan gerak setir.

    Thatcham Research bahkan mengingatkan konsumen agar tidak salah paham terhadap fungsi driver assistance. Fungsi ini bukan kemudi otomatis, melainkan teknologi pendukung dalam megemudi.

    Sebelumnya, fitur Autopilot milik Tesla juga dikritik Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NHTSA) menyusul 15 kasus kecelakaan yang melibatkan mobil berfitur Autopilot.

    "Sayangnya, ada pengendara yang percaya bahwa mereka bisa membeli mobil self-driving hari ini. Ini adalah kesalahpahaman yang berbahaya karena terlalu banyak kendali yang diberikan kepada kendaraan yang tidak siap untuk mengatasi semua situasi," kata Matthew Avery dari NCAP yang juga Direktur Penelitian Thatcham Research.

    Para peneliti Massachusetts Institute of Technolog atau MIT juga merilis hasil penelitian bahwa pengemudi mobil Tesla mengalami banyak gangguan ketika menggunakan fitur swakemudi atau Autopilot semi-otonom.

    Temuan ini mendukung seruan bagi para pembuat mobil agar menjaga pengemudi tetap berkonsentrasi dalam menggunakan mode autopilot demi keselamatan mereka.

    Hasil riset MIT ini diumumkan sehari sebelum CEO Tesla Elon Musk mengungkap sistem baru autopilot Tesla pada pekan ini. Dia menjanjikan peluncuran dalam beberapa bulan ke depan pada tahun ini.

    Teknologi autopilot Tesla dirancang untuk mengarahkan mobil tetap berada di jalurnya dan mengikuti lalu lintas di jalan raya. Tetapi Tesla mengakui perangkat lunak sistem itu tidak sempurna sehingga pengemudi harus siap untuk mengendalikan kendaraannya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sel Dendritik dan Vaksin Nusantara Bisa Disuntik Berulang-ulang Seumur Hidup

    Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret menjelaskan proses pembuatan vaksin dari sel dendritik. Namun, vaksin bisa diulang seumur hidup.