Laba Bersih Segmen Otomotif Grup Astra Merosot 70 Persen

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mobil Toyota Kijang di pabrik perakitan mobil PT Toyota Astra Motor, Jakarta, 1986. Dok.TEMPO/Maman Samanhudi

    Mobil Toyota Kijang di pabrik perakitan mobil PT Toyota Astra Motor, Jakarta, 1986. Dok.TEMPO/Maman Samanhudi

    TEMPO.CO, JakartaPT Astra International Tbk. atau Grup Astra merilis laporan keuangan kuartal III tahun 2020. Perusahaan besar tersebut menuai laba bersih segmen otomotif sebesar Rp 1,8 triliun.

    Prosentase laba Grup Astra tersebut anjlok 70 persen dibandingkan laba Rp 6,06 triliun pada periode yang sama 2019. Angka ini menunjukkan kemerosotan volume penjualan yang signifikan akibat pandemi Covid-19 sejak Maret silam.

    "Keseluruhan kinerja Grup Astra selama sembilan bulan pertama 2020 lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terutama akibat pandemi COVID- 19," kata Presiden Direktur Djony Bunarto Tjondro dalam siaran pers, Senin, 26 Oktober 2020.

    Kendati demikian, segmen otomotif Grup Astra mampu mencatatkan keuntungan pada kuartal ketiga ini setelah mengalami kerugian pada kuartal kedua.

    Kenaikan kinerja ini berkat peningkatan volume penjualan menyusul pelonggaran penanggulangan pandemi. Pada kuartal kedua 2020, pabrik dan dealer grup Astra pada ditutup sementata.

    "Neraca keuangan Grup tetap kuat."

    Penjualan mobil Grup Astra pada periode sembilan bulan 2020 menurun 51 persen menjadi 192.400 unit, namun pangsa pasar mereka stabil pada 52 persen.

    Pada kuartal ketiga 2020, penjualan mobil Astra meningkat menjadi 53.000 unit, dari 9.700 unit pada kuartal kedua. Grup Astra meluncurkan 13 model baru dan 15 model revamped pada periode sembilan bulan pertama 2020.

    Adapun penjualan sepeda motor secara nasional menurun 42 persen menjadi 2,9 juta unit pada sembilan bulan pertama  2020. Penjualan Grup Astra atas sepeda motor Honda menurun 38 persen menjadi 2,3 juta unit.

    Pada kuartal ketiga 2020, penjualan sepeda motor Astra meningkat menjadi 849.000 unit, dari 244.000 unit pada kuartal kedua. Empat model baru dan sembilan model revamped telah diluncurkan pada periode sembilan bulan pertama tahun 2020.

    Bisnis komponen otomotif Grup dengan kepemilikan 80 persen, PT Astra Otoparts Tbk. (AOP), mencatatkan rugi bersih Rp 243 miliar dibandingkan laba bersih Rp 512 miliar pada periode yang sama 2019.

    Kondisi itu disebabkan penurunan pendapatan dari segmen pabrikan (OEM/original equipment manufacturer), pasar suku cadang pengganti (REM/replacement market) dan segmen ekspor.

    Menurut Grup Astra, secara umum pendapatan bersih konsolidasian grup pada sembilan bulan pertama 2020 mencapai Rp 130,3 triliun atau menurun 26 persen dibandingkan periode yang sama 2019.

    Laba bersih, setelah memasukkan keuntungan dari penjualan saham Bank Permata, sebesar Rp 14,0 triliun alias menurun 12 persen dibandingkan dengan sembilan bulan pertama tahun 2019.

    Tanpa memasukkan keuntungan dari penjualan tersebut, laba bersih Grup menurun 49 persen menjadi Rp 8,2 triliun. Ini disebabkan terutama penurunan kinerja divisi otomotif, alat berat dan pertambangan, dan jasa keuangan, yang disebabkan pandemi Covid-19 dan penerapan langkah-langkah penanggulangannya, serta penurunan harga batu bara.

    Nilai aset bersih per saham pada 30 September 2020 sebesar Rp 3.822, meningkat 5 persen dari nilai aset bersih per saham pada 31 Desember 2019.

    Adapun kas bersih, tidak termasuk anak perusahaan jasa keuangan Grup, mencapai Rp 4,4 triliun pada 30 September 2020, dibandingkan utang bersih sebesar Rp 22,2 triliun pada akhir tahun 2019, setelah diterimanya hasil penjualan saham Bank Permata pada Mei 2020.

    Utang bersih anak perusahaan jasa keuangan Grup Astra menurun dari Rp 45,8 triliun pada akhir 2019 menjadi Rp 43 triliun pada 30 September 2020.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.