Test Drive Hyundai Kona EV: Banyak Cara Isi Daya Baterai, Simak Biayanya

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hyundai Kona EV sedang melakukan pengisian daya di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum milik PLN di Gambir, Jakarta Pusat. 9 Desember 2020. TEMPO/Wawan Priyanto.

    Hyundai Kona EV sedang melakukan pengisian daya di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum milik PLN di Gambir, Jakarta Pusat. 9 Desember 2020. TEMPO/Wawan Priyanto.

    TEMPO.CO, JakartaTempo mendapatkan kesempatan untuk menguji mobil listrik Hyundai Kona pada 8-10 Desember 2020. Meski waktu terbatas, tapi cukup untuk merasakan kebiasaan baru dalam hal menggunakan mobil listrik, yakni mengisi daya di malam hari dan menggunakannya di pagi hari. Mirip seperti mengisi daya baterai smartphone atau tablet. Sesederhana itu. 

    Kona EV memiliki tiga pilihan dalam hal pengisian daya baterai. Pertama adalah menggunakan portable charger. Alat ini diikutkan dalam pembelian mobil secara gratis. Diletakkan di dalam sebuah tas kecil di bagasi. Alat ini bisa digunakan untuk mengisi daya menggunakan listrik rumah (DC). Tinggal colok, baterai Kona EV akan terisi. 

    Hyundai Kona EV. 10 Desember 2020. TEMPO/Wawan Priyanto

    Kona EV merupakan mobil listrik murni yang resmi dipasarkan di Indonesia mulai 6 November 2020, bersamaan dengan Hyundai Ioniq EV. Kona EV dibekali baterai lithium ion 39,2 kWh. Baterai ini mampu digunakan untuk menempuh jarak 345 kilometer berdasarkan NEDC dan 289 kilometer (WLTP) dalam sekali pengisian daya. 

    Kona EV dibekali motor listrik sinkron bermagnet permanen dengan daya 136 PS dan torsi 395 Nm melalui penggerak roda depan. Mobil ini dijual dengan harga Rp 674 juta (on the road DKI Jakarta).

    Berdasarkan pengalaman Tempo, isi daya menggunakan listrik 4.400 VA. Dari posisi baterai 50 persen hingga 100 persen memerlukan waktu 9 -10 jam dengan asupan setrum rata-rata 2,5 kW (2.500 Watt). Untuk listrik 4.400 VA, konsumen dapat memilih volume 12 Ampere dengan menekan tombol hitam di belakang portable charger. Indikasi Ampere akan tertera di layar display charger. 

    Indikator di meter cluster Hyundai Kona EV saat diisi daya menggunakan listrik rumah. 8 Desember 2020. TEMPO/Wawan Priyanto

    Jika dirasa beban listrik untuk rumah tangga besar, maka konsumen bisa menurunkan volume menjadi 10 Ampere untuk menghindari listrik turun. Jadi portable charger ini dapat dibawa bepergian dan berguna jika tempat tujuan tidak tersedia Wall Mount Charger atau jauh dari Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). 

    Lantas berapa tarifnya untuk charges di rumah? Menilik tarif dasar listrik terbaru yang dikeluarkan oleh Kementerian ESDM dan PLN, tarif tenaga listrik pelanggan rumah tangga daya 1.300 VA, 2.200 VA, 3.500, 5.500 VA sampai 6.600 VA ke atas atau dari golongan R-1/TR, R-2/TR hingga R-3/TR adalah sebesar Rp 1.444,70 per kWh.

    Tinggal dikalikan jumlah kWh baterai Kona EV (39,2 kWh). Mengacu pada hitungan tersebut, isi daya 0-100 persen menggunakan listrik rumah (golongan R-2/4.400 VA) dikalikan 39,2 kWh = Rp 50.632. Dengan biaya setrum tersebut, sanggup digunakan untuk berkendara sejauh kurang lebih 300 kilometer. 

    Selanjutnya adalah Wall Mount Charger. Menurut Hyundai Motor Indonesia, alat ini diberikan gratis untuk pembelian unit Kona EV hingga Desember 2020, berikut instalasinya. Kemungkinan besar Wall Mount Charger ini akan dijual terpisah pada tahun depan. Tentu saja harapannya tetap digratiskan. 

    Wall Mount Charger bentuknya cukup sederhana, tidak terlalu besar. Kira-kira seukuran MacBook Air 13 inci namun lebih tebal. Pemasangannya dengan menempel di dindin. Bisa dipasang di rumah atau kantor, disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. 

    Wall Mount Charger ini mampu mengisi daya baterai 39,2 kWh Kona EV dari posisi 0-100 persen dalam waktu 5-6 jam. Berdasarkan pengalaman, rata-rata charges dari posisi baterai tinggal 20-30 persen, tidak mungkin membiarkan baterai dalam kondisi 0 persen alias mogok di jalan. 

    Wall Mount Chager Hyundai. 10 Desember 2020. TEMPO/Wawan Priyanto

    Menurut Technical Training Hyundai Motor Indonesia, Erik Ryan, Wall Mount Charget maksimum 7,2 kW, 220/230 Volt kali 32 Ampere atau hingga 7.200 Watt (7,2 kW). "Daya ini adalah kebutuhan minimum untuk charging dari Wall Mount Charger," kata Erik kepada Tempo, Jumat, 11 Desember 2020.

    Cara mengisi ulang baterai berikutnya adalah melalui Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang sudah mulai tersedia di sejumlah area di Jakarta, Tangerang, dan lainnya. Caranya melalui aplikasi Charge.IN. Di aplikasi itu kita juga dapat mencari lokasi SPKLU, berikut status apakah sedang digunakan atau tidak. Pembayarannya, secara online melalui aplikasi LinkAja. Jadi, dua aplikasi ini saling terkait pada saat akan digunakan untuk mengisi daya mobil listrik. 

    Tempo
    menjajal mengisi daya baterai di SPKLU PLN Gambir. Di sana terdapat 4 tiang charger. SPKLU ini memiliki gun yang dibutuhkan untuk mengisi daya kendaraan listrik, mulai dari gun yang bisa digunakan sesuai setandar Eropa (CCS), atau Jepang (Chademo). Untuk DC Charging (pengisian cepat) saat ini mampu menyalurkan setrum 50 kW dan 100 kW. Untuk biaya, Tempo mengisi sebanyak 20 kWh dengan harga Rp 35.294 termasuk biaya administari sebesar Rp 3.500. Dari angka itu, biaya per kWh di SPKLU PLN Gambir mencapai Rp 1.796,2. 

    Biaya isi daya mobil listrik Hyundai Kona 20 kWh di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum PLN Gambir mencapai Rp 35.924. 9 Desember 2020. TEMPO/Wawan Priyanto

    Di SPKLU PLN Gambir Tempo bertemu dengan dua unit Hyundai Ioniq EV milik armada Grab Indonesia yang kebetulan juga sedang mengisi daya. "Biasanya saya sehari sekali chagres, biaya Rp 50-60 ribu dengan jarak tempuh sekitar 300 kilometer," kata Yusuf Sopanji, yang sudah mengemudikan Ioniq EV Grab sejak pertama kali diluncurkan pada 27 Desember 2019. 

    Menurut Yusuf, Ioniq EV yang dikemudikannya pernah mengantar konsumen hingga ke Bandung. "Sampai di Bandung charges lagi," ujar dia. "Kalau mengantar ke Cilegon, sering." 

    Armada listrik Grab, Hyundai Ioniq EV, sedang melakukan pengisian daya di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum milik PLN di Gambir, Jakarta Pusat, 9 Desember 2020. TEMPO/Wawan Priyanto

    Pengalaman serupa juga diutarakan Eka Wijayanto, sesama driver taksi online Grab Indonesia. Menurut Eka, ia sehari mengisi daya dengan biaya Rp 40-50 ribu untuk jangkauan 290-300 kilometer, tergantung kondisi lalu lintas dan jarak. "Kalau lagi ramai seperti hari ini, saya charges dua kali," ujar Eka. 

    Menggunakan armada Hyundai Ioniq EV, Eka sering mengantar tamu dengan rute Bandara Soekarno Hatta-Puncak, Jawa Barat. 

    Menurut Eka, penumpang merasa senang diantar menggunakan mobil listrik karena lebih senyap dan tentunya ramah lingkungan. Ia berharap SPKLU diperbanyak lagi di masa mendatang sehingga daya jelajah kendaraan listrik semakin luas tanpa takut kehabisan baterai di tengah jalan. 

    Untuk pengguna yang kebetulan kehabisan baterai saat berkendara, Hyundai Indonesia menyiapkan layanan Emergency Mobile Charging Services. Layanan ini akan membantu mengisi daya baterai mobil konsumen hingga mampu menuju SPKLU terdekat. Layanan service juga diberikan kepada pelanggan fleet. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.