Tabrakan Maut Tesla, Elon Musk Sebut Autopilot Tidak Aktif

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas melakukan evakuasi mobil Tesla yang mengalami kecelakaan dan terbakar di The Woodlands, Texas, 17 April 2021. Dua penumpang yang berada dalam mobil Tesla tersebut tidak ada yang berada dibekalang kemudi. SCOTT J. ENGLE via REUTERS

    Petugas melakukan evakuasi mobil Tesla yang mengalami kecelakaan dan terbakar di The Woodlands, Texas, 17 April 2021. Dua penumpang yang berada dalam mobil Tesla tersebut tidak ada yang berada dibekalang kemudi. SCOTT J. ENGLE via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah kecelakaan fatal menimpa mobil Tesla Model S terjadi pada Sabtu, 17 April 2021, di Texas, Amerika Serikat. Kecelakaan ini mengakibatkan dua orang tewas yang merupakan penumpang dari mobil tersebut.

    Pihak kepolisian setempat mengatakan bahwa mobil melaju dengan kecepatan tinggi lalu menabrak pohon dan terbakar. Kecelakaan diduga karena pengemudi mengaktifkan autopilot dan kemudian pindah ke kursi penumpang. 

    “Tidak ada yang mengendarai mobil Tesla ketika menabrak pohon di Texas selama akhir pekan. Menewaskan dua penumpang,” ujar pihak berwenang, seperti dikutip NBC News, Selasa, 20 April 2021.

    Namun, Co-founder dan CEO Tesla, Elon Musk, memiliki penjelasan yang berbeda. “Autopilot tidak diaktifkan," kata dia melalui akun Twitter dirinya.

    Menurut Musk, mobil garapannya itu tidak memiliki kemampuan mengemudi sendiri secara penuh, atau FSD. Fitur tersebut memungkinkan kendaraan untuk parkir sendiri dan secara otomatis mengubah jalur di jalan raya. 

    Menurut situs resmi perusahaan, Tesla mengatakan bahwa kemampuan autopilot dan FSD-nya tidak membuat kendaraannya sepenuhnya otonom. Dan tetap menyarankan pengemudi untuk memegang kemudi setiap saat. 

    Polisi Harris County Precinct 4, Mark Herman, menjelaskan bahwa unggahan Musk merupakan keterangan pertama yang didengar dari perusahaan tersebut. Pihak berwenang akan memberikan surat perintah penggeledahan di Tesla untuk mendapatkan dan mengamankan data dari kendaraan tersebut.

    “Penyelidikan awal menunjukkan bahwa tidak ada yang mengemudikan mobil ketika kecelakaan itu terjadi,” kata Herman.

    Yang terlihat hanya dua orang korban meninggal, satu duduk di kursi penumpang dan satu orang di kursi belakang. Pihak berwenang mengidentifikasi para korban sebagai pria berusia 69 dan 59 tahun. Nama mereka belum dirilis.

    Menurut Herman, lebih dari 30.000 galon air digunakan untuk memadamkan api karena baterai kendaraan terus menyulut api. Di beberapa titik saat kebakaran, yang menurut Herman berlangsung sekitar empat jam, petugas yang merespons harus menelepon Tesla untuk menentukan cara memadamkan api. 

    Badan Keselamatan Transportasi Nasional dan Administrasi Keselamatan Transit Jalan Raya Nasional (NHTSA) mengatakan mereka sedang menyelidiki. Lembaga tersebut telah meluncurkan 28 penyelidikan kecelakaan kendaraan Tesla. 

    Pada 2018, seorang pengemudi berusia 38 tahun tewas di Mountain View, California, ketika Tesla Model X yang menggunakan autopilot menabrak pembatas beton dan terbakar. Perusahaan mengatakan pada saat itu bahwa tidak ada tindakan yang diambil oleh pengemudi, yang melihat sekat beton selama 5 detik. 

    Dan pada tahun 2016, seorang pengemudi berusia 40 tahun di Florida tewas dalam Tesla Model S dengan autopilot yang gagal berhenti ketika sebuah trailer traktor berbelok ke kiri di depannya 

    NBC NEWS | CNBC | REUTERS

    Baca juga: Mobil Tesla Kecelakaan Lagi, Sistem Autopilot Jadi Sorotan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Cara Perlawanan 75 Pegawai KPK yang Gagal TWK

    Pegawai KPK yang gagal Tes Wawasan Kebangsaan terus menolak pelemahan komisi antirasuah. Seorang peneliti turut menawarkan sejumlah cara perlawanan.