Vespa Crazy Rich Surabaya yang Dilelang untuk Bantuan Covid-19 Laku Rp121 Juta

Reporter:
Editor:

Rafif Rahedian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Crazy Rich Surabaya, Andreas Stanley, melelang Vespa Bagol Sprint tahun 1974 berwarna biru kesayangannya untuk berdonasi penanganan Covid-19. FOTO: Instagram/andreasstanley

    Crazy Rich Surabaya, Andreas Stanley, melelang Vespa Bagol Sprint tahun 1974 berwarna biru kesayangannya untuk berdonasi penanganan Covid-19. FOTO: Instagram/andreasstanley

    TEMPO.CO, Jakarta - Salah satu pria yang menyandang status crazy rich Surabaya, Andreas Stanley telah berhasil menjual Vespa Sprint tahun 1974, yang ia lelang untuk bantuan Covid-19.

    Dirinya memutuskan melelang kendaraan kesayangannya melalui akun media sosial Instagram pribadinya pada Jumat, 23 Juli 2021.

    Kini, Vespa Sprint tersebut sudah terjual dengan harga sebesar Rp121.123.123 oleh seorang pemilik Amari Group bernama Radit.

    “Selamat kepada bro Radit, pemenang lelang Vespa. Semua hasil dari lelang ini akan saya sumbangkan untuk peduli Covid-19,” katanya melalui video yang diunggah di Instagram.

    Lebih lanjut, Andreas menjelaskan bahwa dirinya agak berat melepas Vespa ini. Namun karena visi kemanusiaan, dirinya rela melepas kendaraan roda dua kesayangannya.

    Ia juga menjelaskan bahwa Vespa Sprint tahun 1974 tersebut memiliki banyak kenangan. Mengingat, motor ini pernah mogok ketika berboncengan dengan istri.

    “Segera saya kirim ya bro (Radit) dan semoga hasil dari vespa ini bisa bermanfaat untuk banyak orang,” lanjut Andreas menambahkan.

    Sebagai informasi tambahan, Andreas membuka bid lelang Vespa Sprint ini dengan harga sebesar Rp19 juta.

    Sebelumnya, anak pengusaha salon Johnny Andrean, Jevon Andrean sempat menawarkan motor ini dengan harga Rp65 juta. Sayangnya, penawarannya masih kalah di akhir lelang.

    Baca: Crazy Rich Surabaya Lelang Vespa Kesayangan untuk Penanganan Covid-19


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.