Begini Proses Penyandang Disabilitas Mendapatkan SIM D

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyandang disabilitas mengikuti tes berkendara pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) D khusus difabel di Satuan Penyelenggara Administrasi (Satpas) SIM Daan Mogot, Jakarta, Senin (11/2). Dengan memiliki SIM, kaum difabel menjadi lebih tertib peraturan dalam berkendara. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Penyandang disabilitas mengikuti tes berkendara pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) D khusus difabel di Satuan Penyelenggara Administrasi (Satpas) SIM Daan Mogot, Jakarta, Senin (11/2). Dengan memiliki SIM, kaum difabel menjadi lebih tertib peraturan dalam berkendara. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Penggunaan SIM D diatur dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang LLAJ atau Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pasal 242. Pasal itu menyebut baik pemerintah pusat maupun daerah, serta perusahaan angkutan umum wajib memberikan perlakuan khusus dibidang lalu lintas dan angkutan jalan kepada disabilitas, usia lanjut, anak-anak, wanita hamil, dan orang sakit.

    Dilansir dari Penelitian yang dilakukan oleh Bagus Aji Kuncoro berjudul “Evaluasi Proses Perolehan Surat Ijin Mengemudi (SIM D) Bagi Penyandang Cacat di Kabupaten Sidoarjo”, proses regulasi disabilitas dalam memperoleh Surat Ijin Mengemudi, yaitu:

    1. Administrasi awal

    Administrasi awal merupakan cek awal terkait kelayakan pemohon dalam mendapatkan SIM. Diantara syarat administrasi yang harus dipenuhi oleh pemohon adalah sebagai berikut:

    1) Usia

    1. 17 tahun untuk SIM A, C, dan D
    2. 20 tahun untuk SIM B1
    3. 21 tahun untuk SIM B2

    2) Administratif

    1. Memiliki Kartu Tanda Penduduk
    2. Mengisi formulir permohonan
    3. Rumusan sidik jari
    4. Tes Kesehatan

    Tes kesehatan merupakan uji prasyarat utama bagi pemohon untuk dapat dipenuhi, pemohon yang tidak sehat secara jasmani maupun rohani tidak diperkenankan untuk mendapatkan SIM, adapun bagi disabilitas tes kesehatan disesuaikan dengan kemampuan fisik dan yang terutama dari tes kesehatan adalah pada kemampuan melihat.

    2. Tes Tertulis

    Tes tertulis merupakan ujian bagi pemohon SIM terkait dengan kecakapan pemohon dalam berkendara. Tes tertulis lebih banyak berisi tentang rambu-rambu lalu lintas dan pemahamannya. Syarat keluluasan bagi pemohon adalah mendapatkan nilai di atas 60.

    3. Ujian Praktek

    Ujian praktek ini terkait dengan kecakapan pemohon SIM dalam berkendara. Dalam ujian praktek pemohon diminta untuk mengendarai kendaraan khusus bagi penyandang disabilitas dengan mengikuti alur sebagaimana yang telah ditentukan seperti zigzag, membentuk angka 8, tanjakan, turunan dan lain sebagainya.

    4. Uji Keterampilan melalui Simulator

    Uji keterampilan melalui simulator ini tidak dimiliki di semua kantor Kepolisian. Pada uji keterampilan melalui simulator ini pemohon diminta mengendarai kendaraan simulasi yang didepannya ada monitor berisi berbagai rintangan yang mencakup ujian tes tertulis dan praktek.

    5. Foto

    Setelah pemohon dinyatakan lulus semua ujian maka pemohon diminta untuk ke ruang photo untuk diambil gambarnya dan kemudian menerima SIM.

    Berdasarkan serangkaian proses diatas dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam proses mendapatkan SIM antara disabilitas dan masyarakat normal pada umumnya.

    Proses pembuatan SIM D relatif sama dengan pembuatan SIM umum. Pertama, mereka melakukan tes kesehatan, kemudian dilanjutkan tes tertulis dan terakhir tes praktek yang menggunakan kendaraan pribadi mereka. Umumnya para difabel memodifikasi sepeda motor dengan menambah dua roda pada kiri dan kanan di bagian roda belakang. Pihak Ditlantas sudah memilikil loket khusus pembuatan SIM D. 

    NAUFAL RIDHWAN ALY 

    Baca: Difabel Bisa Punya SIM, ini Syarat yang Diperlukan Buat SIM D


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.