Hyundai akan Mengembangkan Chip Semikonduktor Sendiri

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hyundai Logo (REUTERS/Lee Jae-Won)

    Hyundai Logo (REUTERS/Lee Jae-Won)

    TEMPO.CO, JakartaChief operating officer (COO) global Hyundai Motor Jose Munoz mengatakan pada Rabu, 13 Oktober 2021 waktu setempat, bahwa pihaknya ingin mengembangkan chip semikonduktor sendiri. Langkah ini untuk mengurangi ketergantungan pada produsen chip global yang saat ini sedang dilanda krisis produksi.

    Mengutip Reuters, Kamis, 14 Oktober 2021, kekurangan semikonduktor global yang dipicu oleh lonjakan pemesanan laptop dan produk elektronik lainnya selama pandemi telah menutup beberapa jalur produksi mobil secara global tahun ini.

    Beberapa pabrik Hyundai dihentikan sementara. Namun, Munoz mengatakan bahwa masa-masa terburuk karena kekurangan chip semikonduktor telah berlalu. Menurutnya, bulan-bulan terberat bagi Hyundai adalah Agustus dan September.

    "Industri chip bereaksi sangat cepat. Tapi dalam kasus kami, kami ingin dapat mengembangkan chip kami sendiri sehingga kami tak terlalu bergantung," ujar Munoz.

    "Ini membutuhkan banyak investasi dan waktu, tapi kami sedang mengerjakannya," lanjutnya.

    Monez juga mengatakan, afiliasi bagian perusahaan yakni Hyundai Mobis akan memainkan peran kunci.

    Dia menambahkan, saat ini Hyundai bertujuan untuk mengirimkan kendaraan sesuai dengan rencana awal bisnis pada kuartal keempat dan mengimbangi beberapa kerugian produksinya pada tahun depan.

    Bersama dengan Toyota dan Tesla, Hyundai adalah salah satu dari segelintir produsen mobil yang meningkatkan penjualan global meskipun kekurangan chip.

    Hyundai memutuskan untuk tidak memangkas pesanan selama pandemi, setelah melihat pasar Asia pulih lebih kuat dari yang diharapkan, kata Munoz.

    Baca juga: Krisis Semikonduktor, Hyundai Hentikan Sementara Produksi di AS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kereta Cepat Jakarta - Bandung: Sembilan Tahun Perjalanan hingga Bengkak Biaya

    Proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung jadi pembicaraan publik karena muncul cost overrun. Jokowi lantas meneken Perpres untuk mendukung proyek itu.