Harley-Davidson Ajak Pemilik Tepis Stigma Arogan

Minggu, 20 November 2016 | 17:47 WIB
Harley-Davidson Ajak Pemilik Tepis Stigma Arogan
Direktur Pelaksana dan Wakil Presiden Harley Davidson untuk Asia Pasifik Marc McAllister di showroom Harley Davidson di kawasan Radio Dalam, Jakarta, Selasa (15/11). Tempo/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Merek Harley-Davidson tak cuma berkaitan dengan produk sepeda motor, lebih jauh, merek ini telah jadi identitas dan gaya hidup pemiliknya. Sebagai merek legendaris, Harley juga jadi salah satu ikon budaya pop di banyak negara, termasuk Indonesia.

Stiker, kaos, dan aksesori busana yang berlogo Harley-Davidson menyebar di semua kalangan, baik pemilik sepeda motornya atau bukan. "Bisa dibilang, merek Harley-Davidson adalah merek otomotif dengan jumlah penggemar dan klub pemilik (owner group) terbanyak di dunia," kata Vice President & Managing Director HD Asia-Pacific Marc McAllister kepada Tempo di dealer baru Nusantara Harley-Davidson, Jakarta Selatan, Selasa, 15 November 2016.

Tapi, meski populer dan legendaris, merek ini juga kerap diasosiasikan dengan citra negatif. Di Amerika Serikat ada perkumpulan pemilik Harley-Davidson dan motor besar bernama Hell's Angel yang diklasifikasikan sebagai kelompok kriminal oleh Departemen Hukum Amerika Serikat.

Di Indonesia, ada sejumlah insiden yang melibatkan kelompok pemilik Harley dengan masyarakat di jalanan. Tahun lalu, seorang warga Yogyakarta cekcok dan menghadang rombongan Harley karena merasa konvoi motor besar ini mengganggu. Lalu muncul gelombang penolakan dan suara sinis dari masyarakat di media sosial terhadap kegiatan klub Harley-Davidson.



McAllister membenarkan soal ini. "Ya saya sering mendapat pertanyaan soal citra negatif itu," ujarnya. Dia menyayangkan kesalahan persepsi tersebut pada masyarakat. "Kita harus mengubah persepsi itu, karena tidak semua pemilik Harley bersikap arogan di jalan."

Pada dasarnya, ujar McAllister, setiap kelompok pemilik Harley punya karakteristik yang sama. "Jiwa sosial pemilik Harley sebetulnya sangat tinggi, karena setiap pemilik Harley pasti bergabung dengan klub, mereka senang berkumpul dengan teman-temannya." Bahkan, kata McAllister, di Indonesia para pemilik Harley sangat sering melibatkan keluarga dalam kegiatan klub.

McAllister memberi contoh bagaimana kepedulian sosial pemilik Harley di Indonesia sangat tinggi. "Sewaktu acara gathering owner Harley-Davidson se-Asia di Bali pada September lalu, komunitas Harley di Indonesia banyak membantu para pemilik Harley dari negara lain yang kesulitan datang ke Bali akibat penutupan bandara." Waktu itu, Bandara Ngurah Rai ditutup akibat letusan Gunung Anak Rinjani.

"Mereka membantu para tamu dari negara lain untuk datang ke Bali lewat berbagai cara," ujar McAllister. Selain itu, banyak juga kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat luas dengan para pemilik Harley.

Prinsipal Harley-Davidson, ujar McAllister, selalu mendorong konsumen kami agar lebih dekat dengan lingkungan sosial mereka, bukannya memisahkan diri dan menjadi eksklusif. "Kami harus mengubah persepsi negatif tersebut, komunitas Harley harus bersahabat dengan lingkungan."

Dengan pembukaan jaringan dealer baru di sejumlah kota di Indonesia, McAllister menjelaskan, nantinya setiap klub akan punya wadah berkegiatan. Para dealer ini akan dijadikan chapter atau cabang klub pemilik Harley-Davidson. "Akan ada kegiatan rutin dengan para anggota."

PRAGA UTAMA

Simak wawancara lengkap Tempo dengan Marc McAllister di Koran Tempo edisi Senin, 21 November 2016.