Penjualan Mobil Niaga Diprediksi Bergeliat di Paruh Kedua  
Reporter: Tempo.co
Editor: Abdul Malik
Jumat, 17 Maret 2017 04:37 WIB
Booth Tata Motors Indonesia di IIMS 2016. Kredit: Tata Motors
Iklan
Iklan

TEMPO.COJakarta - Penjualan kendaraan niaga ringan (pikap dan kabin ganda) nasional diprediksi baru mulai bergeliat pada akhir semester pertama dan paruh kedua tahun ini. Ketidakpastian yang masih mendera sektor pertambangan dan perkebunan masih menjadi faktor penentu utama. Sektor pertambangan dan perkebunan masih merupakan segmen konsumen terbesar kendaraan niaga.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

"Harus diakui kami masih bergantung pada dua sektor itu," ujar Marketing Manager PT TATA Motors Distribusi Indonesia (TMDI) Wilda Bachtiar di Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis, 16 Maret 2017. "Meski harga komoditas sudah membaik sejak akhir tahun lalu, pengusaha belum berani investasi besar, karena menunggu harga hasil tambang dan kebun benar-benar stabil."

Baca: GSX-R150 Diusung ke Suzuki Asian Challenge

Meski pasar belum terlalu bergairah, TATA mencoba menangkap peluang dengan memasarkan produk baru Xenon XT mulai awal Januari 2017. Produk pikap kabin ganda yang masih diimpor secara utuh dari India itu ditujukan untuk mengantisipasi kenaikan permintaan saat pertambangan dan perkebunan membaik.

Sejak awal tahun, kata Wilda, TATA meminjamkan beberapa unit ke pengusaha di berbagai daerah. "Tujuannya agar mereka bisa merasakan kelebihan produk. Sehingga saat mereka akan kembali berinvestasi, mereka akan memilih TATA." Terlebih, dia menambahkan, harga jual produk ini, yang sebesar Rp 324 juta, lebih murah dibanding kompetitor.

Baca: Wah, Seluruh Manajemen Renault Terlibat Skandal Tes Polusi

Merek asal Jepang, Nissan, yang mengandalkan produk pikap kabin ganda Navara, juga berupaya menangkap potensi membaiknya pasar. Presiden Direktur Nissan Motor Indonesia Antonio Zara, dalam wawancara dengan Tempo beberapa waktu lalu, menyatakan berencana menjual produk Navara yang lebih murah untuk kebutuhan usaha. "Selama ini Navara lebih disukai konsumen perorangan karena fiturnya mewah dan lengkap."

Dalam jangka panjang, Nissan, bersama perusahaan aliansinya, Mitsubishi, berencana mengembangkan produksi pikap di Asia Tenggara karena potensi pasar yang masih tinggi. Rencana ini, menurut Chief Operating Officer Mitsubishi Motor Corp Trevor Mann, dilakukan untuk menghemat biaya produksi. "Sekaligus menjadi platform untuk produk pikap Mitsubishi dan Nissan di masa depan," ujarnya, seperti dikutip dari Reuters, pekan lalu.

PRAGA UTAMA

Iklan

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi