Kepolisian Larang Pengemudi Dengarkan Musik, Ini Hasil Penelitian

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepolisian Resor Metropolitan Tangerang akhirnya menahan UH, 39 tahun, pengemudi Daihatsu Xenia warna putih berpelat nomor B-1O21-BZW, yang menerobos razia polisi.

    Kepolisian Resor Metropolitan Tangerang akhirnya menahan UH, 39 tahun, pengemudi Daihatsu Xenia warna putih berpelat nomor B-1O21-BZW, yang menerobos razia polisi.

    TEMPO.CO, London - Kepolisian melarang pengemudi mendengarkan musik saat berkendara mobil. Hal tersebut disampaikan lewat akun Instragram @polantasindonesia. Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian RI mengunggah gambar bertuliskan "Stop! Merokok, Menggunakan Ponsel, Mendengarkan Musik, Termasuk Tindakan Tidak Wajar Dalam Berkendara", disertai gambar pengendara sepeda motor yang merokok.

    Hal itu mengacu pada Undang-Undang RI Nomor 22 Pasal 283 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, yang menyebutkan bahwa setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp 750 ribu.

    Sebuah penelitian di University College London (UCL) menemukan bahwa mendengarkan musik saat mengemudi mobil ternyata bisa berdampak buruk karena dapat mengganggu konsentrasi serta memperlambat waktu reaksi dan meningkatkan stres pada pengemudi. Efeknya pada kondisi tertentu bisa mengakibatkan kecelakaan lalu lintas.

    Baca: Negara Ini Melarang Pengemudi Merokok Sambil Berkendara

    Para ilmuwan meyakini otak kita disetel untuk mengharapkan apa yang kita lihat sesuai dengan apa yang kita dengar, dan jeda ketidaksesuaian dalam tautan ini memaksa otak bekerja ekstra, menghilangkan fokus dari pekerjaan yang sedang dijalankan.

    Hal yang disebut speaker syndrome ini bahkan lebih berdampak pada orang-orang lanjut usia atau yang memiliki gangguan pendengaran.

    Studi terbaru UCL mendukung penelitian sebelumnya di Israel yang menunjukkan bahwa musik dapat mengalihkan perhatian. Musik yang didengarkan saat menari, makan, dan berolahraga belum tentu tepat didengarkan saat berkendara secara aman.

    "Ini meneruskan penelitian sebelumnya dari Israel yang menegaskan apa yang selalu kita ketahui, jenis musik yang salah dapat membuat Anda menjadi pengemudi yang buruk," kata direktur kebijakan dan penelitian IAM RoadSmart, Neil Greig.

    "Potensi gangguan dari sumber suara yang berbeda dan suara musik yang cepat adalah hal yang harus diwaspadai oleh semua pengemudi baru," katanya.

    "Memilih musik yang tepat bisa sama pentingnya dengan mengenakan sabuk pengamanan atau memeriksa kaca spion Anda sebelum Anda menyetir," kata Neil Greig sebagaimana dikutip The Sun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.