Bangun Pabrik Baru, Produksi Toyota Cina Dekati Pabrik di AS

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah mobil konsep Toyota Fengchao Way yang dipamerkan dalam acara Shanghai Auto Show, di Shanghai, Cina, 19 April 2017. REUTERS/Aly Song

    Sebuah mobil konsep Toyota Fengchao Way yang dipamerkan dalam acara Shanghai Auto Show, di Shanghai, Cina, 19 April 2017. REUTERS/Aly Song

    TEMPO.CO, JakartaToyota Motor akan membangun pabrik baru di Guangzhou, Cina, dengan kemampuan produksi 200.000 unit setahun. Perusahaan otomotif asal Jepang ini siap memproduksi lebih banyak kendaraan listrik untuk menyambut kebijakan baru bidang lingkungan.

    Dikombinasikan dengan rencana-rencana ekspansi lainnya di negara pasar terbesar itu, kapasitas produksi tahunan Toyota akan meningkat 35 persen menjadi 1,7 juta unit kendaraan pada 2021, mengutip media Jepang, Nikkei online, Minggu 26 Agustus 2018.

    Baca: Digempur Xpander, Toyota Jaga Pasokan Avanza di Angka 6.000 Unit

    Dengan sejumlah ekspansi tersebut maka kapasitas produksi Toyota di Cina akan mendekati skala produksi di Amerika Utara yakni 2 juta unit kendaraan.

    GAC Toyota Motor sebuah perusahaan patungan dengan Guangzhou Automobile Group telah merencanakan untuk meningkatkan kapasitas produksi di fasilitas Guangzhou sebesar 120.000 unit, tapi sekarang akan menambah pabrik perakitan baru.

    Model-model sport utility vehicles, mobil listrik dan plug-in hybrid diharapkan bisa diproduksi di pabrik itu. Di Tianjin, di mana Toyota mengoperasikan perusahaan patungan dengan FAW Group juga berencana meningkatkan kapasitas produksinya di Cina.

    Baca: Test Drive Toyota Alphard Hybrid: Halus Tanpa Getaran

    Ekpansi besar Toyota  dengan mitra lokal itu kemungkinan akan diputuskan dalam bulan ini sebagai antisipasi kebijakan-kebijakan mengenai lingkungan, termasuk terkait polusi udara, yang bakal dikeluarkan oleh Cina.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.