Mobil Ferrari Ini Punya Nilai Investasi Lebih Tinggi dari Emas

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ferrari 250 GTO, yang bobotnya lebih bernilai daripada emas. Sumber: carscoops.com

    Ferrari 250 GTO, yang bobotnya lebih bernilai daripada emas. Sumber: carscoops.com

    TEMPO.CO, London - Emas telah lama dianggap sebagai salah satu investasi terbaik dan paling stabil. Sementara baru-baru ini menelusuri melalui Reddit, salah satu situs berbasis komunitas bahwa mobil klasik paling berharga dari emas adalah Ferrari 250 GTO, yang bobotnya lebih bernilai daripada emas.

    Baca: Terjun ke Supercar, BMW Lebih Bengis dari McLaren dan Ferrari

    Pada saat Desember 2018, harga emas adalah US$ 1.237,48 per ons, atau US$ 39,78 per gram atau sekitar Rp 568 ribu. Pada tanggal 2 Januari 2019, harga emas adalah US$ 1.288,60 per ounce atau US$ 41,43 per gram atau Rp 592 ribu. Adapun Ferrari 250 GTO 1962 menjadi mobil paling mahal yang pernah dijual dalam lelang di rumah lelang, RM Sotheby Monterey pada Agustus dengan harga US$ 48.405.000 atau sekitar Rp 690 miliar.

    Ferrari 250 GTO, yang bobotnya lebih bernilai daripada emas. Sumber: carscoops.com

    Ferrari 250 GTO memiliki berat sekitar 880 kilogram (1940 lbs) atau hingga 950 kilogram (2094 lbs). Jika berat Ferrari 880 kilogram dan melakukan sedikit hitungan, Anda akan menemukan bahwa Ferrari 250 GTO bernilai US$ 55,00 per gram atau Rp 768 ribu, jauh lebih tinggi dari harga emas.

    Baca: Kerennya 2 Render SUV dari Pabrikan Supercar Ferrari dan McLaren

    Tentu saja, tidak semua 250 GTO dihargai sekitar US$ 50 juta, tetapi berdasarkan tren pasar saat ini. Kemungkinan mobil ini akan diperjualbelikan lebih dari US$ 50 juta dalam lima tahun mendatang. Tentunya jika pasar masih kuat dan GTO yang sangat langka masih akan mempertahankan nilainya.

    CARSCOOPS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?