Ini Penyebab Penjualan Isuzu Panther Terpuruk

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petinggi Isuzu memperkenalkan truk terbarunya. TEMPO/Wawan Priyanto

    Petinggi Isuzu memperkenalkan truk terbarunya. TEMPO/Wawan Priyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Penjualan retail Isuzu Panther sepanjang 2018 hanya 950 unit. Angka ini turun 17,2 persen dibanding penjulan 2017 sebanyak 1.147 unit.

    Direktur Marketing LCV PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) Joen Budi Putra mengatakan bahwa tren Isuzu Panther dalam beberapa tahun terakhir menurun.

    "Penurunan ini disebabkan karena persingan di segmen MPV medium yang cukup ketat," kata Budi di sela-sela peluncuran Isuzu Giga terbaru di Senayan, Jakarta, 24 Januari 2019.

    Baca: Penjualan Isuzu 2018 Positif, Panther dan D-Max Malah Turun

    Meski demikian, Budi mengklaim Isuzu Panther masih diminati konsumen setianya. Rata-rata merupakan pengguna lama Isuzu Panther.

    Tahun ini, lanjut Budi, perusahaan menurunkan target penjualan Isuzu Panther dari 2.078 unit (gabungan bersama Isuzu Panther pikap) menjadi 1.700 unit.

    Budi mengklaim pasar Isuzu Panther jenis pikap masih cukup baik karena konsumen sudah memahami kandalannya. "Kami banyak berbicara dengan konsumen. Rata-rata menyebut Panther bisa diandalkan, bertenaga, murah perawatannya, dan sebagainya," katanya.

    Isuzu Indonesia, lanjut Budi, belum memiliki rencana untuk masa depan Isuzu Panther. Posisi mobil yang mengisi segmen MPV medium bersama Toyota Kijang Innova itu masih 'ditahan'. "Kami akan menunggu langkah pengembangan selanjutnya bersama mitra kami di Jepang," ujarnya.

    Budi menyebut produksi Isuzu Panther tergantung pada penerapan regulasi terkait standar emisi gas buang (Euro 4 dan Low Carbon Emission Vehicle).

    Baca: Alasan ACC Mengandalkan Isuzu MU-X Jadi Mobil Operasional

    Budi mengatakan bahwa Isuzu Panther yang selama ini hanya diproduksi di Indonesia bisa saja dialihkan ke negara lain. "Nanti di bulan April 2019 akan ada titik terang tentang masa depan Isuzu Panther," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.