Isuzu Panther Sukses Terobos Banjir Tinggi, Ini Penjelasannya

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Cuplikan video saat mobil Isuzu Panther menembus banjir. Sumber: Facebook

    Cuplikan video saat mobil Isuzu Panther menembus banjir. Sumber: Facebook

    TEMPO.CO, Jakarta - Video viral Isuzu Panther yang menerabas genangan banjir di Bekasi ditanggapi Technical Advisor Isuzu Astra Motor Indonesia, Indarto. Teknisi ahli yang pernah meraih juara dunia di ajang Isuzu Technical Competition di Jepang tersebut menilai bahwa pada dasarnya kendaraan diesel konvensional tangguh menghadapi banjir, karena posisi air intake yang cenderung aman serta baterai dan sistem kelistrikan yang tidak mudah korslet.

    "Selama baterai dan jalur listiknya tidak korslet, serta air intake tidak kemasukan air, maka mobil akan tetap bisa berjalan. Posisi baterai Panther juga cukup tinggi," ujar Indarto kepada Tempo, Jumat, 3 Januari 2020.

    Untuk posisi air intake atau saluran udara Isuzu Panther, kata dia terletak di atas roda atau di bagian fender. Sehingga air disebut cenderung tidak mudah masuk ke air intake. Sehingga potensi Water Hammer relatif lebih rendah.

    "Saat mobil jalan, air akan sulit masuk ke fender dan ruang mesin, karena aliran air cenderung terbelah dan terdorong ke depan," ujarnya.

    Tapi, Indarto berujar bahwa skill pengemudi juga tak kalah penting. Isuzu Panther juga disebut lebih aman jika pengemudi sudah memahami dengan baik bagaimana kondisi mobilnya.

    "Upayakan jangan berhenti,saat mobil melewati banjir. Tapi sekali lagi semua juga ditunjang skill si driver," ucapnya.

    Adapun jarak aman melewati genangan air bagi Isuzu Panther. Menurut dia seperti mobil pada umumnya, yakni tidak melewati posisi air intake.

    "Untuk Isuzu Panther amannya sih setengah roda, risikonya relatif lebih rendah," kata dia. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.