Berburu Sepeda Motor Tua dan Antik, Simak Tips dari Ahlinya

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komunitas motor antik di Yogyakarta, Motor Antigue Club akan menggelar Djogjantique Day 2018. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Komunitas motor antik di Yogyakarta, Motor Antigue Club akan menggelar Djogjantique Day 2018. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Para penggila motor antik belakangan makin meluas ke berbagai kalangan. Tak hanya kalangan bikers, orang awam yang memiliki dana cukup pun turut tergoda berburu dan mengkoleksi motor-motor antik dari berbagai merek itu khususnya produksi di atas tahun 1970.

    Semakin tua dan orisinil motor antik yang diburu, harganya pun kian melambung. Tak jarang, motor-motor yang masih orisinil dan terawat itu setelah didandani harganya bisa tembus di atas Rp 200 juta. Terutama untuk merek-merek tertentu seperti Harley Davidson, Triumph, Norton, atau BSA.

    Namun, patut dicatat, melambungnya harga motor antik itu juga kerap dibayangi penipuan. Khususnya bagi para awam yang belum banyak mengetahui seluk beluk motor antik.

    Baca: Ribuan Motor Antik Bakal Sesaki Djogjantique Day 2018

    Sesepuh yang juga Wakil Ketua komunitas Motor Antik Club (MAC) Yogyakarta Ardy Tjandranata menuturkan ada beberapa tips bagi awam untuk berburu motor antik. “Pertama, untuk orang yang masih awam, kalau mau beli motor antic mau tak mau harus mengajak orang yang benar-benar tahu soal motor antik,” ujar Ardy kepada Tempo Selasa 7 Agustus 2018.

    Sebab, nilai utama dari motor antik itu terletak pada orisinalitas yang dimiliki. Semakin orisinil semakin mahal harganya. Ardy menuturkan saat ini semua onderdil hampir bisa diakali atau dibuat. Namun untuk orang yang menguasai literasi motor antik, ia akan memahami mana komponen baru mana komponen orisinil.

    Terlebih saat ini banyak produksi komponen baru yang hampir tak bisa dibedakan dengan aslinya. Misalnya adanya lekukan pada spatbor dan lainnya.

    Kedua, saat membeli motor antic harus dipastikan pula fit-nya kondisi mesin. “Bisa saja mesinnya terdengar halus tapi ternyata rombakannya (modifikasinya) ngga bener semua, “ ujarnya.

    Ardy menuturkan karakter motor antic yang rata-rata keluaran Eropa dan Amerika itu kerap berbeda dengan motor Jepang yang kini merajai pasaran Indonesia. Kadang, ujar Ardy motor antik ini ada suara mesinnya yang sedikit berbunyi, tak serta merta mesinnya halus seperti motor Jepang. Hal ini patut diketahui mereka yang awam sehingga perlu mengajak orang yang paham soal motor demi memastikan orisinalitas motor yang diburu.

    Baca: Tangki Sepeda Motor Bocor? Ini Penyebab dan Cara Merawatnya

    “Misalnya yang bunyi cuma primary gear, itu bukan persoalan besar dan masih bisa ditangani, sekarang banyak yang jual onderdil itu, ngga perlu produksi sendiri kayak jaman dulu pas belum ada internet,” ujarnya.

    Selanjutnya, untuk membeli motor antik yang perlu dipersiapkan yakni tekad kuat. Sebab seringkali nilai atau harga motor itu tidaknya sesuai dengan tampilannya.

    Misalnya saja dengan dana Rp 30 juta saat ini sudah bisa mendapatkan motor baru yang nyaman dikendarai. Namun kalau motor tua yang dibeli dengan harga sama Rp 30 juta, ujar Ardy, jelas butuh berdandan banyak. Dan untuk mendadani ini butuh banyak waktu, modal, dan pikiran. “Karena sebagian besar tak ada motor antik yang computerized, semua manual,” ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.