Selasa, 25 September 2018

Pemerintah Batasi Impor Mobil CBU, Ini Tanggapan Toyota

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Toyota New Alphard dan Vellfire kian kokoh posisi di segmen multi-purpose vehicle (MPV) premium.

    Toyota New Alphard dan Vellfire kian kokoh posisi di segmen multi-purpose vehicle (MPV) premium.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perindustrian memastikan akan mengurangi impor kendaraan bermotor mobil dalam keadaan utuh atau completely built-up untuk menghemat devisa. Bagaimana tanggapan pelaku industri otomotif?

    Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM) Fransiscus Soerjopranoto mengungkapkan pihaknya akan selalu mendukung dan mengikuti peraturan yang dikeluarkan pemerintah terkait dengan langkah pemerintah mengendalikan impor dengan berbagai pertimbangan.

    Baca: Toyota Etios Liva Edisi Terbatas Dirilis di India, Kelebihannya..

    “Pemerintah tentu telah mempertimbangkan secara saksama berbagai faktor ketika mengeluarkan suatu kebijakan,” kata Soerjo kepada Bisnis, Selasa, 28 Agustus 2018.

    Saat ini, dia menjelaskan, di Toyota sekitar 90 persen produk telah diproduksi di dalam negeri. Karena itu, kata Soerjo, terdapat pengembangan sumber daya manusia investasi, pembukaan lapangan kerja, dan masih banyak lagi.

    Sementara itu, sebelumnya, dia mengatakan 10 persen sisanya masih diimpor dari negara lain, seperti Thailand dan Jepang. Produk-produk yang diimpor memiliki volume yang lebih kecil dan sudah terdapat fasilitas produksi di negara lain.

    Baca: Test Drive Toyota Alphard Hybrid: Halus Tanpa Getaran

    Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian Harjanto mengatakan langkahnya melakukan pengendalian impor terhadap kendaraan bermotor mobil secara utuh lantaran pelemahan nilai tukar rupiah.

    Kementerian Perindustrian tidak menginginkan impor di sektor otomotif tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan ekspor, dan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi mengecil atau melemah pada pengujung tahun ini. “Dalam konteks rupiah tertekan, neraca perdagangan seperti itu, kita mendorong ekspor. Tentunya importasi itu dilakukan secara selektif, apalagi ini final produk,” kata Harjanto.

    Simak: TMMIN Menargetkan Ekspor Toyota Fortuner 10.000 Unit

    Dia menjelaskan, pihaknya mempertimbangkan beberapa hal dalam memberikan lisensi terhadap perusahaan yang ingin melakukan impor kendaraan bermotor mobil secara utuh.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Karen Agustiawan Ditahan Karena Akuisisi Pertamina di Blok BMG

    Kejaksaan Agung menahan mantan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan terkait kasus dugaan korupsi investigasi Pertamina berupa akuisisi aset BMG.