Roofbox Jadi Cara Menambah Daya Tampung Mobil saat Mudik 2019

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • roofrack

    roofrack

    TEMPO.CO, Jakarta - Mobil pribadi sering kali lebih diminati sebagai moda transportasi bagi masyarakat dengan alasan lebih leluasa membawa berbagai macam barang saat mudik. Supervisor Pemasaran Whale Carrier Dede Ardiansyah di Bekasi mengatakan alat tambahan di atap mobil atau roofbox, menjadi jalan keluar bagi para pemudik kendaraan pribadi yang ingin menambah kapasitas muatan barang.

    Baca: Tips Membeli Mobil Bekas untuk Mudik, Apa Saja yang Diperhatikan?

    "Mereka yang menggunakan roofbox biasanya mencari kenyamanan saat perjalan jauh. Jadi, semua barang bisa ditaruh dalam roofbox sehingga kabin lebih lega dan bersih," ujar Dede, Senin 13 Mei 2019.

    Dede mengatakan rootbox bisa dipakai untuk semua jenis kendaraan baik itu MPV, LMPV, SUV, hingga city car. Namun, para pemudik kendaraan pribadi perlu memperhatikan sejumlah aspek keselamatan jika akan memasang roofbox di kendaraan mereka.

    Aspek keselamatan itu, menurut Dede, menjadi penting menyusul perhitungan aerodinamika kendaraan yang berubah akibat kehadiran barang bawaan di atas kendaraan. "Untuk mengatasi keseimbangan kendaraan, kita perlu memilih roofbox dengan aerodinamika yang bagus," ujarnya.

    Selain aerodinamika, ketinggian kendaraan yang menggunakan roofbox juga menjadi perhitungan lain terutama jika melewati jalanan dengan penghalang seperti Gerbang Tol Otomatis (GTO).

    Baca: 7 Tips Membeli Mobil Bekas agar Tak Kemahalan dan Kena Tipu

    "Untuk penyesuaian tinggi gerbang GTO, tergantung tinggi mobil pengguna. Selama ini, konsumen kami yang menggunakan jenis kendaraan LMPV, MPV dan City Car sudah pasti aman tidak ada gangguan. Tapi kalau SUV, ketinggian sudah pasti mentok," ujar Dede.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.