Almaz Laris, Wuling Masih Berharap pada Confero Jadi Penopang

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wuling Almaz di GIIAS Surabaya, 29 Maret 2019. TEMPO/Wawan Priyanto.

    Wuling Almaz di GIIAS Surabaya, 29 Maret 2019. TEMPO/Wawan Priyanto.

    TEMPO.CO, Jakarta - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat Wuling Motors dalam empat bulan pertama tahun ini, berhasil memasarkan 4.286 unit atau berkontribusi 1,3 persen dari total penjualan (wholesales) 337.892 unit.

    Baca Juga: Buka-bukaan Wuling Almaz, Simak Fitur Unggulannya

    Capaian tersebut cukup mengantarkan Wuling yang belum genap dua tahun masuk ke pasar otomotif Indonesia masuk 10 besar merek dengan penjualan terbesar. Namun bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, jumlah tersebut turun sekitar 17,8 persen atau 930 unit.

    Brand Manager Wuling Motors Dian Asmahani mengatakan, capaian penjualan dalam bulan pertama tersebut masih cukup positif dengan Confero sebagai tulang punggung kemudian disusul Cortez dan Almaz.

    Namun, dia menggarisbawahi penjualan Almaz yang melebihi ekspektasi. "Kalau dilihat keseluruhan, tren penjualan Almaz semakin baik. SPK [surat pemesanan kendaraan] semakin naik," ujarnya di Jakarta, Selasa 21 Mei 2019. Wuling Almaz diketahui sudah dipesan sekitar 1.500 unit sejak diluncurkan pada Februari lalu.

    Baca Juga: Kembaran Wuling Almaz Ini Lebih Keren dan Mesin Bertenaga

    Hasil yang kurang menggembirakan justru dialami merek China lainnya yakni DFSK. Data Gaikindo menunjukkan merek yang bekerja sama dengan penyanyi pop Agnez Mo sebagai brand ambassador ini hanya berhasil menjual 738 unit sejak Januari hingga April 2019.

    Namun, bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, jumlah tersebut meningkat signifikan. Selama empat bulan pertama 2018, DFSK hanya mencatatkan penjualan sebanyak 255 unit.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.